Pemuda! Nama yang begitu gagah didengar, begitu kharismatik dibayangan. Pemuda, sebuah definisi yang begitu indah bila dijelaskan. Ir. Soekarno pernah berkata “beri aku sepuluh orang pemuda maka akan ku guncang dunia!”. Jadi jika kita mendeskripsikan apa itu pemuda dari pernyataan Soekarno, maka pemuda adalah tangan tangan yang akan mengguncang dunia. Adalah generasi yang akan membangun peradaban melalui semangat dan juangnya, melalui prestasi dan ide cemerlangnya. Betapa hebatnya manusia atas nama pemuda.
Ada yang tahu dengan Benjamin Franklin, George Washington, John Adams, Thomas Jefferson, John Jay, James Madison dan Alexander Hamilton? Tentu tahu! Mereka semua adalah pemuda. Negara adidaya dibangun oleh mereka. Revolusi kemerdekaan Amerika lahir dari tangan-tangan pemuda. Gerakan perlawanan dan upaya membangun bangsa dan negara pada paruh kedua abad 18 itu telah mempengaruhi gerakan serupa di Eropa. Di paruh abad ke 20 kita menyaksikan John Fitzgerald Kennedy menjadi pemimpin muda di Era 1960an, menjadi harapan Amerika dan warga dunia yang dicekam oleh ketakutan Perang Dingin.


Pertanyaannya adalah, Apakah masih ada pemuda seperti mereka? Dimana? Ada yaitu di dalam diri masing-masing! Hidup adalah pilihan, menjadi pemenang atau menjadi pecundang. Akan tetap terpuruk atau tergerak dan mencoba bergerak.
Bangsa Indonesia khususnya rakyat Indonesia saat ini tahun 2018 sedang mengalami situasi keterperukan dalam pedoman hidup. Bung Karno mengatakan “Suatu bangsa apabila kehilangan jatci dirinya, maka bangsa tersebut tidak akan mampu bertahan hidup, bahkan akan punah”. Rakyat Indonesia mulai buta akan namanya persatuan Indonesia. Korupsi semakin menjalar bahkan dari pusat pemerintahan hingga ke badan pemerintahan terkecil. Bangsa Indonesia semakin dipenuhi dengan masyarakat-masyarakat yang hanya ingin mementingkan kepentingan dan tujuan kelompoknya. Illegal Logging, pembakaran hutan untuk pengalihan fungsi lahan, bahkan mereka tak sungkan untuk mencuri hasil-hasil dari pertanian masyarakat kecil yang ada. Pemuda sibuk dengan dunianya, apatis, tawuran, Napza, kebebasan menjadi tidak terarahkan atas nama hak asasi manusia dan karya seni. Menyeramkan!
Jika kita kembali melihat ke masa lalu, betapa jayanya Indonesia. Rakyat Indonesia di melenium pertama, leluhur kita berhasil membangun sebuah Candi, yang sekarang menjadi Candi terbesar dan menjadi salah satu dari tujuh keajaiban di dunia yaitu, Candi Borobudur. Di melenium kedua rakyat Indonesia, dibawah naungan Kerajaan Majapahit berhasil menguasai dan menjadi pelaku penting dunia. Semua itu mulai luntur ketika Bangsa Belanda mulai datang. Mereka menjadi tuan ditanah Nusantara. Seluruh rakyat Indonesia harus menurut apa yang mereka inginkan. Diikuti oleh masuknya Jepang yang menjajah negara kita dengan kebijakan yang tidak manusiawi.
Masuk ke akhir masa-masa penjajahan di Indonesia. Para penjajah mulai mendapatkan perlawanan dari segala penjuru Indonesia. Hingga mulai muncul tokoh-tokoh pemikir dan penggerak massa. Seperti Oemar Said Tjokroaminoto, Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Kiai Hasyim Ashari, Moh Yamin, Prof. Soepomo, Ki Hajar Dewantara, dll. Rakyat Indonesia mulai bergerak dan para pemikir mulai mencanangkan sebuah dasar negara Indonesia. Kemerdekaan pun didapatkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Indonesia yang lahir, lalu berkembang dan berjaya yang sempat terpuruk lalu bangkit kembali melalui kemerdekaan, semua itu tidak terlepas dari peran pemuda. Akankah Indonesia kembali berjaya? Jawabannya adalah “tergantung peran pemudanya”
Kualitas pendidikan yang bertumpu pada peningkatan kualitas karakter dan mental menjadi kunci perbaikan kualitas SDM pemuda indonesia menuju ke arah yang lebih baik.
Pesantren merupakan jawaban atas kemerosotan moral yang terjadi di tengah pemuda Indonesia, pendidikan yang hanya bertumpu pada kemampuan eksak atau akademik tanpa membangun karakter dan mental seseorang dapat mempengaruhi mental pemuda di masa depan.
Darunnajah sebagai salah satu pesantren terbaik di Indonesia mampu memadukan catur pusat pendidikan,yaitu kyai sebagai sentral figure,asrama masjid sebagai tempat ibadah dan tempat belajar secara terpadu.hal ini dapat menjadikan santri dalam pengawasan dan pembinaan totalitas 24 jam penuh.
dapat membangun jiwa karakter generasi muda menumbuhkan ketahanan pribadi santri.dalam pesantren kita membangun jiwa mandiri santri,karenakehidupan pesantren memaksa para santri untuk lebih self-help.yaitu segala sesuatu yang kita kerjakan sendiri,mulai dari mencuci pakaian,bersih bersih kamar,belajar,dan sebagainya.hidup di pesantren juga kita belajar cara trikat,yaitu nrimo dengan fasilitas dan perlakuan tidak “semewah”di rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar