Tampilkan postingan dengan label November 04. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label November 04. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2018

4 Hal Yang Harus Diperhatikan Saat Kita Mencari Calon Istri

Pondok Pesantren An Nahl Darunnajah 5 – 4 November 2018. Untuk para kaum adam pasti kita ingin sekali kelak menikah mendapatkan istri yang sholeha. Mendapatkan istri yang taat dengan suami, Mendapatkan Istri yang selalu menjaga martabat keluarga, Dan lain-lain.

Nah maka dari itu kita sebagai kaum adam harus lebih selektif untuk mendapatkan istri yang benar-benar baik dunia dan akhirat, Karena jika kita ingin mencari istri janganlah lihat seorang wanita itu dari kecantikkannya saja namun perhatikan juga hal-hal lainnya.

Hal-Hal yang harus kita perhatikan :

1. Agamanya

Yang wajib kita perhatikan sewaktu kita mencari calon istri adalah kita lihat dahulu bagaimana agama dia, Baik atau tidak karena seorang wanita yang baik agamanya bisa membuat rumah tangga menjadi tentram.

2. Keturunannya

Nah yang kedua yaitu keturunanya. Jika seorang wanita dari keturunan keluarga baik-baik insya allah wanita itu akan baik pula akhlaknya.

3. Kecantikannya

nabi muhammad saw pernah menyuruh seorang sahabat untuk melihat wanita yang akan dinikahinya. Jadi jika kita ingin menikah dengan seorang wanita maka kita harus melihat dahulu. Jangan lah mencari wanita yang suka sekali untuk keluar rumah, Wanita yang suka memakai parfum diluar rumah.

4. Hartanya

 

Sahabat Pena : Muhammad Hafiz

 

 

 

Mengabdi di Pesantren Darunnajah Mengajarkan Arti Keikhlasan

Mengabdi ?

Maksud dari mengabdi adalah mengabdikan diri kepada Pondok Pesantren atas apa yang telah didapat selama menjadi Santri di Pondok Pesantren Darunnajah Pusat maupun Cabang, dengan memberikan atau mengamalkan semua ilmu yang kita miliki.
mengabdi di Pondok Pesantren Darunnajah Pusat maupun Cabang merupakan salah satu amanah yang harus kita jalani dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab setiap pekerjaan yang sudah diamanahkan atau ditugaskan. Mengabdi di Pondok Pesantren Darunnajah Pusat maupun Cabang itu memiliki arti yang sangat banyak. Dengan mengabdi kita semua diajarkan untuk bertanggung jawab dan amanah dalam setiap pekerjaan, mengajarkan tentang keikhlasan dalam bertugas, mengajarkan kita untuk belajar bagaimana mengurus anak atau santri dengan baik mendidik anak-anak santri dengan benar dan penuh kasih sayang. Itu semua sangat memberi kesan kepada para pengabdi, karena dengan seperti itu sangat bermanfaat untuk masa depannya. Sangat banyak sekali manfaat mengabdi, salah satunya yaitu kita tidak perlu bingung memikirkan kemana kita akan melangkah saat lulus sekolah. Karena mengabdi adalah pilihan terbaik.

Siapa Yang Berhak Mengabdi ?

Tidak sembarang orang yang bisa mengabdi atau mengabdikan diri ke Pondok Pesantren Darunnajah Pusat maupun Cabang. Santri yang sudah menyelesaikan pendidikan nya itu bisa mendaftarkan diri menjadi salah satu peserta pengabdian dengan cara mengisi angket yang sudah Pondok sediakan. Santri yang sudah mengisi angket akan di seleksi kembali di Darunnajah Pusat selama waktu yang sudah ditentukan oleh panitia. Nah disinilah penentua dimana peserta pengabdian akan di tempatkan. Entah itu di Darunnajah Pusat ataupun cabang yang lainnya.

Dimanakah Arti Keikhlasan Dalam Mengabdi ?

mengabdi tidak hanya semena-mena menjadi pengajar atau Ustd/zah di Pondok Pesantren Darunnajah Pusat maupun Cabang, mengabdi pun harus menjalankan tugas yang sudah diberikan atau yang sudah dirugaskan. Nah disinilah dapat kita temui dimana letak keikhlasan dalam mengabdi, yaitu menjalankan setiap tugas yang diberikan dengan penuh rasa iklas seakan semuanya dilakukan hanya karena Allah, mengharap ridha Allah. Rasa ikhlas dapat kita rasakan dengan cara pada saat kita sedang melaksanakan tugas itu tidak sedikitpun merasakan lelah, dan tidak pernah melihat atas kesenangan oranglain. Mengabdi merupan ladang keberkahan, mengapa ??? Ya, semua akan menjadi berkah dengan kita bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam pengabdian. (DN4/SipaNP)

Inilah Poin Penting Daurah Azhariah

Istilah-Istilah Yang Terdapat Dalam Bahasa Arab

Pondok Pesantren An Nahl Darunnajah 5 – 4 November 2018. Banyak sekali istilah-istilah dalam bahasa Arab. Pasti kita sering sekali mendengar kata akhi dan ukhti. Nah artinya dari kedua kata itu adalah orang yang kita hargai baik laki-laki dan perempuan.

Istilah-istilah lain akhi dan ukhti.

Anta : Kamu ( Laki-laki )

Antuma : Kamu, Dua orang ( Laki-Laki )

Antum : Kamu, Banyak orang ( Laki-Laki )

Anti : Kamu ( Perempuan )

Antuma : Kamu, Dua orang ( Perempuan )

Antukanna : Kamu, Banyak orang ( Perempuan )

Ana : Saya

Nahnu : Kami

Ikhwan : Saudara laki-laki ( Jamak )

Akhwat : Saudara Perempuan ( Jamak )

Ukhti : Panggilan untuk saudara perempuan

Akhi : Panggilan untuk saudara laki-laki

Nah itulah istilah-istilah yang sering dipakai dalam kehidupan seharihari. Marilah kita tambah wawasan kita dengan lebih sering membaca.

Sahabat Pena : Muhammad hafiz

JANGAN PERNAH MENOLAK YANG MAU BELAJAR!

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Dorongan utama untuk mendirikan pondok pesantren cabang
Ini tak lain adalah semangat pengabdian kepada allah swt dan kesadaran yang dalam akan tanggungjawab terhadab terhadap pendidikan umat .ungkapan dari sang wakif dan sekaligus pendiri darunnajah, k.h. abdul manaf, menjadi tonggak yang harus ditegakkan
‘’KALiAN DOSA! Para mubaligh di masyarakat menganjurkan agar umat
Islam menyekolahkan anak anak mereka kepesantren,sementara mereka yang mendaftarkan ke pesantren itu kamu tolak.kamu dosa! Cari solusinya supaya mereka bisa belajar di pesantren Darunnajah ini”.

Ya, menolak calon santri adalah hal yang sangat dihindari oleh jajaran pengasuh dan pengasuh pondok.mereka yang telah datang dari berbagai daerah dengan kesadaran ,ketulusan dan keikhlasan untuk belajar,mengaji dan mendalami ilmu ilmu agama tidaklah pantas untuk ditolak.proses seleksi tetap di jalankan melalui berbagai tes.semua calon santri mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengikutinya.hasil tes diumumkan secara terbuka.bagi yang lulus tersedia tempat di pondok,bagi yang tidak lulus,diberi pilihan untuk belajar di pesantren cabang atau mencari tempat lain sesuai

keinginannya jadi,sikap Darunnajah jelas,tidak ada penolakan bagi calon santri untuk belajar.selain itu,kehadiran pondok pesantren cabang Darunnajah juga merupakan perwujudan dari kesadaran dan semangat syi’ar dan dakwah islam.pondokl pesantren , bila sudah mampu , tidak pantas di tempatnya layaknya menara gading . pesantren juga harus berani mendeka t ke masyarakat . mendatangi ,mengajak, merangkul, dan membina masyarakat dalam radiuas yang lebih mudah dijangkau mereka.di sini, semangat “jangan menolak yangmau belajar” sudah meninggkat menjadi semangat merangkul dan membina . itulah yang dilakukan oleh darunnajah

Roadmap [peta jalan ] dari Allah swt

Apakah sejak awal darunnajah sudah membuat perencanaan atau pemetaan dimana saja pondok pesantren cabang itu akn didirikan? Jawaban pasti nya adalah: tidak . dalam bahasa awam mungkin ungkapannya adalah semua terjadi dengan sendirinya.ada tangan yang tak terlihat yang menuntun para pengasuh dan pengurus pesantren untuk datang.

Dikutip dari buku “Melangkah Meluaskan Ladang Ibadah Sejarah Pondok Pesantrem Darunnajah Cabang” Karangan Dr. K.H. Sofwan Manaf

Semoga bermanfaat.(dn13/ghofur)

Paspradarna Menjadi Ekstrakulikuler Pilihan Para Santri

Pasukan Pramuka Darunnajah atau biasa disebut dengan sebutan PASPRADARNA menjadi pilihan para Santriwati di Pondok Pesantren Putri Al Manshur Darunnajah 3 karena banyak sekali dari mereka yang ingin memperdalam pengetahuannya tentang Kepramukaan nya.

Semenjak tahun ajaran baru ini perkembangan tentang Kepramukaaan semakin meningkat dan semakin di pandang, Karena insya allah akan di adakan lomba Kepramukaan seluruh Santri di Darunnajah Group yang biasa di sebut dengan Perkemahan santri darunnajah atau PERSADA.

PERSADA adalah perlombaan tentang Kepramukaan yang diselenggarakan oleh Darunnajah Group  agar mengetahui sampai mana keahlian atau kemahiran sang regu inti yang ada di Darunnajah, Juga menguji keterampilan atau kekompakannya dalam hal kepramukaan nya.

.ptriaps.

Tahan Banting, 6 Tanda Membuktikan Bahwa Kamu Memiliki Mental Kuat

Tanpa di sadari mental seseorang sangat mempengaruhi kualitas hidup orang tersebut loh. Contohnya, kebanyakan orang sukses pasti memiliki mental sekuat baja. Tidak bisa dipungkiri, orang-orang yang mempunyai mental kuat pasti akan lebih merasakan kehidupan yang bermakna.

Yuk kita mulai perbaiki mental kita supaya tidak menjadi lemah, nggak mau kan hidupmu sia-sia hanya karna mentalmu nggak siap menjalani kehidupan saat ini sampai di masa yang akan datang?

1. Melihat masa depan

Ya ! Ini dia , orang yang bermental kuat pasti akan fokus ke masa depan dan memperbaiki hidup di hari ini. Kalau kamu masih hidup di masa lalu dan masih memikirkan kehidupanmu yang dulu, sudah jelas dong mentalmu masih lemah dan jauh dari kata kuat. Ayo bangun mimpimu, lihat dan yakini bahwa masa depan pasti akan jadi lebih baik!

2. Bekerja keras

Jika kamu masih suka menyalahkan situasi dan kondisi di sekelilingmu, lebih baik sekarang mulai dirubah ya. Karena orang yang bermental kuat itu selalu bekerja keras untuk melakukan yang terbaik demi mendapatkan hasil yang terbaik pula. Semangat!

3. Kemauan kuat

Sukses itu nggak bisa semata-mata kamu raih dengan cara yang instan, pasti memerlukan proses. Hanya orang-orang yang mempunyai kemauan kuat yang bisa menikmati proses menuju kesuksesan itu sendiri. Ingat guys, tidak ada usaha yang menghianati hasil, percaya deh

4. Senang melihat pencapaian orang lain

Ketika salah satu dari temanmu sudah mencapai kesuksesannya, kamu harus ikut senang ya dan jangan lupa ucapkan selamat. Oh ya! Kamu juga bisa lhoh meminta tips and trick supaya bisa mencapai kesuksesan seperti teman kamu! Selalu belajar darimanapun membuat mentalmu semakin kuat dan bersemangat mencapai apa yang kamu tuju.

5. Bertanggung jawab

Manusia bukanlah makhluk yang sempurna, di saat kamu berani menentukan mengambil keputusan, baik maupun buruk kamu harus siap bertanggung jawab atas keputusan yang kamu ambil. Apakah kamu tipikal orang yang mau bertanggung jawab atau lari dari tanggung jawab ?

6. Selalu bersyukur

Dalam kamus kehidupan, bersyukur itu sangat penting. Jangan hanya fokus dengan apa yang harus kita miliki, tapi berterima kasihlah kepada Tuhan untuk segala hal yang sudah kita miliki. Dengan begitu bukan hanya mental saja yang kuat, tetapi pribadi kita pun akan menjadi lebih positif dan bisa menularkan pengaruh baik untuk orang-orang di sekitar kita.

Yuk mulai perbaiki diri. agar hidup kita setiap harinya bisa semakin berkualitas dan memiliki mental yang kuat dan sehat 🙂

العقل السليم هو في روح قوية

(Santri Tv/Rafi)

Sabtu, 03 November 2018

UNDAGAN SEMINAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

STAI Darunnajah.  Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) akan menyelenggarakan seminar untuk kalian para pendidik dan bunda-bunda tentang bagaimana cara mengajarkan Calistung pada anak yg menyenangkan dan bermakna.

Kali ini kita mengundang pakar yg ahli pada bidangnya yaitu Dr. Mubiar Agustin.  beliau adalah dosen Universitas Pendidikan Indoneisa (UPI), penulis buku pendidikan AUD, dan praktisi Pendidikan Anak Usia Dini UPI Bandung.

Acara ini akan dilaksanakan di Aula 4 Windu Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta pada hari/tangal: Sabtu, 1 Desember 2018. jam 07.30 s/d. 12.00 WIB.

Biaya pendafataran Rp. 75.000  dengan transfer ke Nomor Rekening 3740003524 Bank Muamalat a.n. Lina Wati. Pendaftaran ini dibuka dari tanggal 6 Oktober – 29 November 2018.

FASILITAS: selain materi yg didapat, kalian akan dapat buku/CD langsung dari pemateri, sertifikat, sovenir, dan snack.
So, buruan daftar sekarang!
Kirim bukti transfer ke no diatas
Semoga kita bisa menuntut ilmu bersama dan menjadikan diri kita pendidik yang lebih baik

INFO LEBIH LANJUT:
LINA : 082299005643
SARAH : 085218046951

(adm_Staida/Idham)

Latihan Dasar Kepemimpinan Organisasi Santri Darunnajah Cipining 2018 di Pesantren Darunnajah Cipining Bogor

Puncak Tema Persembahan Mahasiswa PPL PIAUD STAIDA

20 Kebaikan di Dalam Sedekah

Suasana Ujian Lisan Santriwati Kelas 6 TMI Tahun Ajaran 2018-2019

6 Rahasia Agar Mudah Memahami Pelajaran Yang Sulit

Kisah Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib: Seorang Bidan Muslimah

Beliau adalah Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan anak, memiliki kedudukan yang tinggi dan posisi yang luhur di sisi Rasulullah SAW. Beliau juga putri Khalifah Rasyidin yang keempat. Kakeknya adalah penghulu anak Adam a.s.. Ibu beliau adalah ratu wanita ahli surga, Fathimah binti Rasulullah SAW, sedangkan kedua saudaranya adalah pemimpin pemuda ahli surga dan penghibur hati Rasulullah SAW.

Dalam lingkungan yang mulia seperti inilah pada zaman Rasulullah SAW Ummu Kultsum dilahirkan, tumbuh, berkembang dan terdidik. Beliau adalah teladan bagi para gadis muslimah yang tumbuh di atas dien, keutamaan dan rasa malu.

Kisah Ummu KultsumAmirul Mukminin Umar bin Khathab al-Faruq r.a., Khalifah Rasyidin yang kedua mendatangi ayahnya untuk meminang beliau. Akan tetapi, mulanya Imam Ali bin Abi Thalib r.a. meminta ditunda, karena Ummu Kultsum masih kecil. Umar r.a. berkata, “Nikahkanlah aku dengannya wahai Abu Hasan, karena aku telah memperhatikan kemuliaannya, yang tidak aku dapatkan pada orang lain.”[1] Maka, Ali meridhainya dan menikahkan Umar dengan putrinya pada bulan Dzulqa’dah tahun 17 Hijriyah, dan hidup bersama hingga terbunuhnya Umar r.a.. Dari pernikahannya mendapatkan dua anak yaitu Zaid bin Umar al-Akbar dan Ruqayyah binti Umar.

Yang mengesankan pada Ummu Kultsum, istri dari Amirul Mukminin, bahwa suatu ketika Umar keluar pada malam hari seperti biasanya untuk mengawasi rakyatnya (inilah keadaan setiap pemimpin yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya dalam naungan daulah islamiyah), beliau melewati suatu desa di Madinah, tiba-tiba beliau mendengar suara rintihan seorang wanita yang bersumber dari dalam sebuah gubug, di depan pintu ada seorang laki-laki yang sedang duduk. Umar mengucapkan salam kepadanya dan bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi. Laki-laki tersebut berkata bahwa dia adalah seorang Badui yang ingin mendapatkan kemurahan Amirul Mukminin. Umar bertanya tentang wanita di dalam gubug yang beliau dengar rintihannya. Laki-laki tersebut tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah Amirul Mukminin, maka dia menjawab, “Pergilah Anda semoga Allah merahmati Anda sehingga mendapatkan apa yang Anda cari, dan janganlah bertanya tentang sesuatu yang tak ada gunanya bagi Anda.“

Umar kembali mengulang-ulang pertanyaannya agar dia dapat membantu kesulitannya jika mungkin. Laki-laki tersebut menjawab, “Dia adalah istriku yang hendak melahirkan dan tak ada seorang pun yang dapat membantunya.“ Umar bertolak meninggalkan laki-laki tersebut dan kembali ke rumah dengan segera. Beliau masuk menemui istrinya yakni Ummu Kultsum dan berkata, “Apakah kamu ingin mendapatkan pahala yang akan Allah limpahkan kepadamu?“ Beliau menjawab dalam keadaan penuh antusias dan berbahagia dengan kabar gembira tersebut yang mana beliau merasa mendapatkan kehormatan karenanya, “Apa wujud kebaikan dan pahala tersebut wahai Umar?“ Maka Umar memberitahukan kejadian yang beliau temui, kemudian Ummu Kultsum segera bangkit dan mengambil peralatan untuk membantu melahirkan dan kebutuhan bagi bayi, sedangkan Amirul Mukminin membawa kuali yang di dalamnya ada mentega dan makanan. Beliau berangkat bersama istrinya hingga sampai ke gubuk tersebut.

Ummu Kultsum masuk ke dalam gubug dan membantu ibu yang hendak melahirkan dan beliau bekerja dengan semangat seorang bidan. Sementara itu Amirul Mukminin duduk-duduk bersama laki-laki tersebut di luar sambil memasak yang beliau bawa. Tatkala istri lakilaki tadi melahirkan anaknya, Ummu Kultsum secara spontan berteriak dari dalam rumah, “Beritakan kabar gembira kepada temanmu wahai Amirul Mukminin, bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya seorang anak laki-laki. Hal itu membuat orang Badui tersebut terperanjat karena ternyata orang di sampingnya yang sedang memasak dan meniup api adalah Amirul Mukminin.

Begitu pula wanita yang melahirkan tersebut terperanjat karena yang menjadi bidan baginya di gubug tersebut ternyata adalah istri dari Amirul Mukminin. Takjub pula orang-orang yang hadir menyaksikan realita yang berada dalam naungan Islam tersebut, yang mana seorang kepala negara dan istrinya membantu seorang laki-laki dan istrinya dari Badui.

Setelah berselang beberapa waktu lamanya, tangan yang berdosa dan dengki dengan Islam membunuh Umar bin Khathab r.a., sehingga Ummu Kultsum menjadi seorang janda.

Tatkala Ummu Kultsum r.a. wafat, Ibnu Umar menshalatkannya dan begitu pula putranya Zaid yang berdiri di sampingnya dan mereka berdua takbir empat kali.

Ya Allah, ridhailah Ummu Kultsum seorang bidan muslimah. [WARDAN/DR]

Sumber: Mereka adalah Para Sahabiyat

Footnote:

[1] Al-lshabah Ibnu Hajar al-Asqalani (Vlll/275).

Kisah Fathimah binti Al-Khaththab

Beliau adalah Fathimah binti al-Khathab bin Naufal bin Abdul ‘Uzza bin Rabah bin Abdullah bin Qarath bin Adi bin Ka’ab. Beliau termasuk wanita yang terhormat, memiliki wajah yang cantik dan tinggi, termasuk keluarga Quraisy yang paling mulia dan paling kuat, lemah lembut dan halus perangainya.

Fathimah r.a. tumbuh dalam keluarga Khatab bin Naufal al-Makhzumi al-Qurasyi yang dikenal keutamaan, kemuliaannya, memiliki kedudukan, dan nasab yang terpandang. Bapaknya juga dikenal sebagai orang yang dapat mendidik anakanaknya dengan keutamaan-keutamaan menurut orang Arab terutama dalam hal kekuatan dalam membentuk kepribadian.

Tatkala Fathimah telah sampai usia dewasa dan telah baligh maka Sa’id bin Zaid bin Amru bin Naufal melamarnya kemudian hidup bersama dengan kehidupan suami istri yang paling harmonis dalam keserasian, saling memahami, saling menghormati secara timbal balik.

Sa’id suami Fathimah masuk Islam melalui perantaraan sahabat yang agung bernama Khabbab bin al-Art r.a., kemudian beliau bawa menghadap Rasulullah SAW agar menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah, menyatakan keesaan Allah, dan kebenaran risalah Muhammad SAW.

Kisah FathimahSa’id kemudian kembali ke rumahnya untuk menceritakan pertemuannya dengan Khabbab serta perjumpaan beliau dengan Rasulullah SAW. Beliau menjelaskan kepada Fathimah tentang dien yang telah dia kenal dan dikenal sebelumnya. Fathimah mendengar penuh antusias dengan anggota badannya, perasaan dan akalnya. Belum lagi sang suami menyelesaikan pembicaraannya Fathimah r.a. telah mengikrarkan syahadatain sehingga beliau terhitung sebagai wanita yang awal masuk Islam.

Setelah itu setiap hari Khabbab bin al-Art mendatangi rumah mereka secara rutin dan memberitahukan ayat-ayat yang baru turun. Beliau ajarkan kepada keduanya tentang dienullah, sehingga tumbuhlah dalam hati mereka semangat untuk beriman.

Mereka semua menginginkan agar berita keislamannya tidak tersebar karena khawatir dengan kekejaman Umar yang mana dia adalah orang yang paling keras sikapnya terhadap kaum muslimin dan yang paling getol dalam menghalangi dakwah Islam di tanah airnya.

Pada suatu hari Umar bin Khathab melangkahkan kakinya menuju rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam untuk membunuh Rasulullah SAW sungguh nampak sekali kemarahan pada kedua matanya. Tiba-tiba dia bertemu dengan seorang laki-laki dari Bani Zahrah dan menanyakan kepada Umar, “Hendak ke mana Anda wahai Umar? Aku melihat engkau dalam keadaan marah, geram, dan menghunus pedang?” Umar menjawab “Aku hendak membunuh Muhammad karena dialah orang yang telah menghancurkan urusan orang-orang Quraisy, yang menganggap bodoh angan- angan mereka yang mencela agama mereka dan mencerca tuhan-tuhan mereka.” Maka laki-laki tadi berkata, “Demi Allah, engkau telah terpedaya oleh dirimu sendiri wahai Umar, apakah engkau mengira Bani Abdi Manaf akan membiarkan dirimu berjalan di muka bumi padahal engkau telah membunuh Muhammad? Mengapa engkau tidak pulang saja kepada keluargamu dan membereskan urusan mereka? Umar bertanya, Keluarga saya yang mana?.” Laki-laki tersebut berkata, “Adik iparmu, putra pamanmu Sa’id bin Zaid bin Amru beserta adikmu Fathimah binti al-Khaththab, sungguh demi Allah mereka berdua telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad.” Bertambah geramlah Umar sehingga dia berkata, “Benarkah mereka telah masuk Islam? Jika memang benar, sungguh aku akan membunuh mereka berdua dengan cara yang sadis.”

Maka, kembalilah Umar menuju rumah adik dan iparnya. Sungguh dia telah berada dalam puncak kemarahannya sehingga tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya. Tatkala dia sudah dekat dengan pintu rumah adik perempuannya yakni Fathimah r.a. sementara mereka ada di dalam rumah sehingga Umar mendengar suatu ucapan yang diulang-ulang namun tidak begitu jelas, kemudian dia melongok sedikit kemudian ia masuk rumah sedangkan suaranya menggelegar memanggil adiknya.

Ketika itu, Khabbab bin al-Art berada di dalam rumah tersebut sedang membacakan kepada Sa’id dan Fathimah sebagian ayat dari al-Qur’anul Karim. Setelah mereka mendengar suara Umar tersebut, Khabbab bersembunyi di salah satu kamar dalam rumah tersebut. Fathimah segera mengambil lembaran yang bertuliskan ayat-ayat al-Qur’an dan beliau sembunyikan di tangannya untuk menghindari pandangan Umar terhadapnya.

Tatkala Umar masuk, dia berkata, “Suara apa yang aku dengar tadi?” Mereka berdua berkata, “Bukan suara apa-apa.” Umar berkata, “Benar, demi Allah aku telah mendapat kabar bahwa kalian berdua telah mengikuti agama Muhammad.” Seketika itu juga Umar menyerang iparnya yaitu Sa’id bin Zaid dan menghajarnya. Maka, Fathimah mencoba menghalangi Umar agar menghentikan perlakuannya terhadap suaminya hingga beliau berdiri di antara Umar dan suaminya, akan tetapi justru Umar memukul Fathimah.

Maka ketika Umar telah berbuat demikian, mereka berdua berkata, “Benar… sungguh kami berdua telah masuk Islam dan beriman kepada Allah dan RasulNya, maka lakukanlah apa yang hendak kamu lakukan terhadap kami.”

Demi melihat darah adik wanitanya karena telah dia pukul, menjadi ibalah hatinya, lalu berkata, “Berikanlah lembaran yang telah aku dengar tatkala kalian baca tadi, aku hendak melihat seperti apa ajaran yang dibawa oleh Muhammad.” Fathimah berkata, “Kami khawatir jika kamu akan merusaknya.” Umar berkata, “Jangan khawatir.” Dia bersumpah kepada Fathimah bahwa dia akan mengembalikannya setelah membacanya. Melihat hal itu Fathimah mengharap keislaman Umar, beliau berkata, “Wahai saudaraku sesungguhnya engkau najis karena kemusyrikanmu, sedangkan ini tidak boleh disentuh, kecuali yang Suci.” Maka Umar beranjak untuk mandi dan Fathimah memberikan lembaran tersebut yang ternyata tertulis surat Thaha. Mulailah Umar membaca hingga manakala sampai pada ayat :

“… Agar tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.” (QS. Thaha: 15).

Berkatalah Umar, “Alangkah bagusnya perkataan ini… alangkah indahnya ia… alangkah mulianya ia.”

Manakala Khabbab mendengar apa yang dikatakan oleh Umar maka Khabbab keluar dari persembunyiannya kemudian berkata, “Wahai Umar sungguh aku berharap kepada Allah agar menjadikan engkau sebagai orang yang didoakan NabiNya karena sesungguhnya aku mendengar bahwa kemarin Rasulullah SAW berdoa:

“Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan masuk Islamnya Abul Hakam bin Hisyam atau Umar bin Khathab.”

“Demi Allah wahai Umar.” Maka Umar berkata, “Tunjukkanlah kepadaku di manakah Muhammad berada sebab aku hendak menemuinya untuk masuk Islam.”

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW berdoa:

“Ya Allah kuatkanlah Islam dengan salah seorang yang Engkau cintai apakah Abu Jahal bin Hisyam ataukah Umar bin Khaththab.”[1]

Khabbab berkata, “Dan ternyata yang lebih disukai Allah di antara keduanya adalah Umar.”

Keluarlah Umar bin Khathab dari rumah adiknya menuju rumah yang ditunjukkan oleh Khabab bin al-Art di mana dia akan menjumpai Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Akan tetapi, tidak bermaksud untuk membunuhnya atau pun menghalangi beliau dari dakwah Islam, melainkan hendak menggabungkan diri dengan kelompok orang-orang yang beriman tersebut. Sehingga, keislamannya menjadikan Islam berwibawa dan mendapat kemenangan sebagaimana yang didoakan Rasulullah SAW.

Begitulah… sejarah telah merekam bahwa Fathimah binti al-Khaththab r.a. memiliki sikap iman yang agung, tentang bagaimana dia menawarkan Islam kepada Umar dan bagaimana pula tanggapan Umar yang perkasa terhadap sikapnya.

Kemudian Fathimah hidup dengan sisa-sisa umurnya di dalam naungan Islam, minum dari sumbernya yang jernih dan menyampaikan hadits yang telah dia dengar dari Rasulullah SAW.

Cukuplah menjadi kebanggan bagi Fathimah, dan cukuplah hal itu sebagai pelajaran bagi kehidupan kita yang mana sejarah akan senantiasa mengingatkan kita tentang kisah masuk Islamnya Umar bin Khathab. Semoga Allah meridhainya dan meridhakannya. [WARDAN/DR]

Sumber: Mereka adalah Para Sahabiyat

Footnote:

[1] Riwayat tersebut dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dalam aI-Manakib, bab: Manakib Umar bin Khathab r.a.. Beliau berkata, ”Hadits ini shahih gharib.” Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam aI-Musnad dan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Adapun riwayat yang pertama lihatlah dalam Sirah Nabawiyah lbnu Hisyam (l/370) tentang hadits masuk Islamnya Umar bin Khaththab r.a. dan lihat pula di dalamnya catatan di pinggir buku tentang perkataan as-Suhaili tentang bersucinya Umar tatkala menyentuh al-Qur’an dan perkataan adik perempuannya bahwa tidak ada yang menyentuhnya kecuali yang suci, ( no. 369).