Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Maret 2019

Rahasia Memimpin Perubahan Organisasi Adalah: Empati

Saya bekerja dengan pemimpin organisasi yang sedang memikirkan strategi untuk lebih maju. Ia berharap strategi ini akan membawa perubahan besar yang memengaruhi setiap aspek organisasi, mulai layanan yang ditawarkan hingga struktur organisasinya.

Saya duduk dengan para pemimpin organisasi tersebut, memikirkan cara yang akan mereka pakai untuk berkomunikasi dengan bawahan mereka. Saya tidak menanyakan perubahan apa yang mereka inginkan, tetapi saya bertanya tentang bagaimana pandangan dan perasaan anggota organisasi tentang masa depan organisasi tersebut.

Kami mulai dengan tim pemimpin organisasi, karena sebagai konsultan komunikasi, saya telah mengamati pola yang sama di banyak organisasi: cara informasi disampaikan kepada karyawan adalah lebih penting daripada informasi itu sendiri.

Kurangnya empati ketika menyampaikan informasi tentang perubahan organisasi akan menyebabkan kegagalan.

Studi tentang perubahan organisasi menunjukkan, bahwa para semua pemimpin setuju: jika Anda ingin memimpin perubahan organisasi yang sukses, berkomunikasi secara empatik adalah sangat penting.

Tetapi kenyataannya sebagian besar pemimpin tidak tahu cara berempati. Bahkan, kami melakukan survei terhadap lebih dari 200 pemimpin organisasi terkemuka dan menemukan 69% mereka berencana untuk melakukan upaya perubahan. Sayangnya, 50% dari mereka mengatakan belum mempertimbangkan perasaan tim mereka tentang perubahan tersebut.

Jika Anda seorang pemimpin organisasi yang berharap untuk melakukan perubahan organisasi yang sukses, Anda perlu memastikan tim Anda ikut di dalam proses dan termotivasi untuk membantu mewujudkannya.

Strategi berikut dapat membantu Anda lebih memahami perspektif anggota organisasi Anda:

Fahami Karakter Anggota Organisasi Anda di Setiap Tahap

Konsultan perubahan biasanya menyarankan para pemimpin untuk membuat gambaran karakter dari berbagai jenis anggota organisasi, ketika mereka memulai inisiatif perubahan. Tetapi, mengingat keinginan manusia terus berkembang sepanjang proses, Anda harus mengulangi kembali pembuatan gambaran karakter ini di setiap tahap perubahan.

Pertama kita perlu menciptakan gambaran umum karakter karyawan, dan memetakannya menjadi beberapa kelompok berdasarkan level dan fungsi. Kemudian kita wawancarai masing-masing anggota organisasi di setiap kelompok untuk mendapatkan contoh cara berfikir mereka. Selama wawancara, kami mengajukan pertanyaan yang dirancang untuk mengungkap kepercayaan, perasaan, dan kekhawatiran tentang strategi organisasi saat ini. Kami juga bertanya apa ada perubahan spesifik yang mereka harapkan (atau tidak akan) dilakukan oleh manajemen.

Dengan menggunakan hasil dari wawancara ini, kami dapat mengidentifikasi bagaimana perasaan setiap kelompok anggota organisasi tentang upaya perubahan, dan merencanakan komunikasi berdasarkan rasa ssemangat, takut, atau frustrasi mereka. Anggota organisasi yang bersemangat dengan perubahan itu akan memotivasi rekan-rekan mereka yang enggan.

Saat proses perubahan organisasi Anda sudah berjalan dan Anda memasuki fase baru perubahan, pastikan Anda mengulangi kembali proses wawancara dan mendengarkan dengan empatik. Dengan begitu, Anda dapat mengukur perasaan orang dari waktu ke waktu, dan menyesuaikan komunikasi Anda agar sesuai dengan suasana hati mereka.

Beritahu Orang Apa Yang Diharapkan

Anda tetap perlu merahasiakan beberapa fakta selama masa perubahan. Tapi Anda juga perlu lebih terbuka kepada karyawan, semakin banyak informasi yang Anda berikan kepada orang-orang Anda, semakin mereka akan bisa menghadapi ketidaknyamanan. Jadi, pelajari ketakutan tim Anda, lalu akui secara terbuka.

Seorang karyawan mungkin akan menyatakan kekhawatirannya, bahwa perubahan akan menyebabkan karyawan berbakat pergi, menyebabkan beban yang lebih besar pada karyawan yang tersisa. Pemimpin bisa mengakui beban kerja yang ada memang berat, lalu pemimpin membagi data yang menjelaskan bahwa pergantian organisasi ini dirancang untuk mengurangi efek dari anggota organisasi yang malas. Dia juga perlu menjelaskan bagaimana biro SDM berusaha mempercepat proses perekrutan dan memperketat wawancara untuk memastikan anggota baru organisasi lebih berpeluang menjadi rekan yang berkinerja tinggi.

Menjadi pemimpin yang berbicara terbuka dalam forum organisasi mungkin tidak mudah, mengingat biasanya organisasi lebih suka merahasiakan urusan rumah tangganya. Tetapi respon yang akan diterima dari karyawan akan membangun kredibilitas dan kepercayaan terhadap pemimpin, karena berhasil mengatasi ketakutan-ketakutan yang ada.

Libatkan Individu di Semua Tingkat

Perubahan organisasi tidak akan berhasil tanpa melibatkan kalangan luas. Sebuah bank besar Eropa mencontoh ini dengan baik. Mereka menjalankan “perencanaan berbasis dialog”, pemimpin organisasi menyampaikan sebuah rencana penting di organisasi mereka, kemudian meminta direktur eksekutifnya untuk menambahkan “bab” sesuai dengan bidang mereka masing-masing.

Setiap direktur kemudian meminta tim di bawah mereka untuk menambah sub bab, menggabungkan ide-ide tentang perubahan dan tanggung jawab mereka. Ini berlanjut sampai lima tingkat ke bawah, sampai ke manajer cabang, dan membantu setiap individu memahami bagian mereka. Latihan seperti ini dapat membantu semua orang merasa seperti peserta aktif, memiliki sesuatu yang berharga untuk ditambahkan.

Di bank yang sama, direktur operasi ritel lalu menulis tentang bagaimana pelanggan menginginkan proses perbankan menjadi lebih cepat. Ketika anggota staf cabang membaca ini, mereka menambahkan bahwa alat scanner kantor sering rusak, membuat stres dan memperlambat semua proses.

Pada akhirnya, para anggota organisasi garis depan inilah yang akan membawa perubahan yang bermanfaat di organisasi dan memnghasilkan kebaikan untuk semua pihak.

Praktik organisasi memang berkembang pesat, tetapi ada satu teknik yang harus selalu diandalkan oleh para pemimpin untuk memotivasi dan memimpin secara efektif: komunikasi empatik.

Kembangkan dan tunjukkan empati untuk semua orang yang terlibat dalam transisi organisasi Anda, dan Anda akan memimpin tim yang merasa dihargai, diikutsertakan, dan didorong untuk membantu inisiatif Anda berhasil.

Oleh: Patti Sanchez (Harvard Business Review)

Jangan Bilang “Saya Tidak Punya Waktu” untuk Menolak Undangan

Saya baru saja menerima undangan untuk menghadiri pernikahan seorang teman. Saya sangat bersemangat, dia sahabat baik saya. Tapi ada masalah besar di fikiran saya: bepergian ke luar kota akan menghabiskan banyak uang, juga akan menghabiskan sebagian besar waktu liburan saya yang terbatas.

Saya memutuskan untuk tidak menghadiri pernikahan, saya berfikir keras bagaimana caranya memberitahu teman saya. Apakah saya cukup bilang: maaf saya belum bisa. Atau saya harus berterus terang bahwa saya tidak punya cukup waktu dan uang? Bagaimana cara terbaik untuk tidak menyakiti perasaannya? Atau menyebabkan salah faham seolah saya tidak menghargai persahabatan kita?

Acara sosial (kumpul-kumpul) baik diadakan oleh teman atau keluarga biasanya memerlukan waktu dan uang. Hal ini cenderung menjadi alasan kita ketika kita tidak bisa melakukan sesuatu. Sayangnya kita hanya tahu sedikit bagaimana cara terbaik memahamkan orang lain, dan bagaimana alasan kita bisa mempengaruhi hubungan.

Saya bersama tim mempelajari pola komunikasi ini dengan menganalisis data percakapan nyata di Twitter dan melakukan tiga percobaan laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa memberi alasan tidak punya cukup waktu dapat merusak hubungan, sedangkan memberi alasan tidak punya cukup uang dapat membantu mereka memahami kondisi kita.

Bagaimana orang menanggapi alasan kita?

Kami menemukan bahwa pengguna Twitter lebih kecil kemungkinannya untuk “like” tweet tentang tidak punya waktu dibandingkan dengan tidak punya uang.

Untuk menguji ini, kami merekrut sampel dari 327 pengantin dan pria yang tinggal di Amerika Serikat yang saat ini merencanakan pernikahan mereka dan telah mengirimkan undangan pernikahan. Kami bertanya kepada mereka berapa banyak tamu yang menolak undangan mereka karena tidak punya cukup uang atau cukup waktu. Rata-rata, peserta melaporkan menerima dua alasan tentang uang dan dua alasan tentang waktu dalam menanggapi undangan mereka (orang-orang juga mengirim alasan lain), menunjukkan bahwa alasan ini sama-sama umum.

Saya juga meminta pasangan untuk merenungkan seberapa dekat perasaan mereka kepada orang-orang yang baru-baru ini menolaknya karena uang atau waktu – saya ingin tahu seberapa dekat mereka merasa sebelum dan sesudah ditolak. Pengantin mempelai pria mengatakan bahwa, sebelum menerima tanggapan, mereka merasa sama dekat dengan tamu-tamu ini; tetapi setelah mendapatkan berita, mereka melaporkan merasa secara signifikan kurang dekat dengan undangan yang bilang tidak punya waktu dibandingkan dengan mereka yang bilang tidak punya uang.

Alasan tidak punya waktu mengakibatkan orang merasa kurang dekat dengan teman, sedangkan alasan tidak punya uang menyebabkan peserta merasa jauh lebih dekat dengan teman. Peserta menemukan alasan uang jauh lebih dapat dipercaya daripada alasan waktu.

Begitu menyentuh perasaan, menariknya kita sering tidak menyadari hal ini ketika kita membuat alasan.

Memang, jika kita ingin mengatur waktu dan uang kita secara efektif – dua dari sumber daya kehidupan yang paling langka dan berharga – kita harus mampu mengatakan “tidak” pada banyak hal. Tetapi jika kita ingin menjaga hubungan kita, kita harus melakukannya dengan cara yang benar.

Ketika kita menolak undangan seseorang karena kita tidak punya cukup waktu, orang tersebut akan menganggap kita tidak menghargai mereka. Ini membuat mereka merasa kurang dekat dengan kita dan mungkin bahkan kurang mau membantu kita di masa depan.

Akan lebih bijaksana untuk mengatakan bahwa Anda tidak punya cukup uang (anggap itu benar), karena orang-orang cenderung mempertanyakan seberapa besar Anda menghargai hubungan tersebut. Anda akan dianggap jujur ​​dan dapat diandalkan, disukai dan juga dipercaya.

Tentu saja, ada keadaan di mana alasan uang mungkin tidak bisa digunakan, (misalnya berkomunikasi dengan pembimbing Anda); dalam kasus ini, saya menemukan dalam penelitian lain bahwa lebih akan lebih baik kalau Anda menolak dengan mengatakan “sedang kurang sehat” dibandingkan “sedang tidak punya waktu,” karena orang menganggap kesehatan memang kurang bisa dikontrol daripada waktu.

Ketika saya harus menolak undangan pernikahan teman saya, saya akhirnya menjawab bahwa saya tidak punya cukup waktu untuk melakukan perjalanan ke tempatnya. Lalu saya akan sering menelepon dan mengirim pesan kepadanya untuk menanyakan bagaimana kabar pernikahannya. Penting disadari bahwa memelihara hubungan baik itu perlu perhatian ekstra, dan Anda perlu menyediakan waktu untuk itu.

Oleh: Grant Donnelly (Harvard Business Review)

Cara Terbaik Menggunakan Media Sosial untuk Memperluas Jaringan Anda

Saya percaya media sosial memiliki kekuatan untuk memperluas dan mengembangkan jaringan seseorang, memperbaiki hubungan yang lemah, dan memelihara hubungan dari waktu ke waktu. Saya telah memahami nilai bisnis media sosial secara langsung, sebab saya sudah sudah pernah menjadi pimpinan tiga startup teknologi terkemuka.

Pengalaman saya didukung oleh penelitian bahwa 75% pembeli awam dan 84% pemimpin usaha menggunakan media sosial sebagai pertimbangan membeli sesuatu. Laporan penjualan 2018 LinkedIn menemukan bahwa 89% marketing handal menganggap media sosial sangat penting meraih penjualan.

Mungkin sulit untuk menjangkau orang yang tidak Anda kenal. Saya pernah menjadi ujung tombak marketing selama lebih dari 30 tahun. Saya tahu seberapa cepat percakapan di internet bisa berubah menjadi penjualan. Semakin natural interaksi Anda dalam media sosial akan semakin baik.

Berikut ini saran saya untuk membangun jaringan bisnis yang lebih kuat dengan bantuan media sosial:

1. Jangan terobsesi dengan senioritas.

Terlalu banyak orang yang fokus mencoba jaringan dengan orang-orang senior, seperti pengusaha atau orang-orang ekonomi atas.  Daripada mengincar orang kaya, lebih baik Anda bangun hubungan dengan teman-teman asli Anda, yang benar-benar mengenal Anda dan berinteraksi dengan Anda di dunia nyata.

Jaringan seperti inilah yang akan terus tumbuh secara alami, sampai mencapai level senior, teman-teman Anda akan menjadi orang sukses. Saat itu, anda bisa panen peluang semudah mengangkat telepon.

Anda punya peluang lebih besar untuk mendapat respons. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat respons berbeda secara signifikan antara level senioritas penerima. Teman-teman kerja adalah yang paling sering merespons pesan seseorang. Sementara kalangan senior paling sedikit merespons pada orang yang tidak mereka kenal.

2. Kirim pesan pertama Anda dengan singkat dan pribadi.

Orang tidak punya kesabaran untuk membaca pesan panjang yang terlihat seperti iklan, terutama jika ini adalah pertama kalinya mereka menerima pesan Anda. Saya hampir selalu mengabaikan pesan awal yang lebih dari satu paragraf. Jadi, singkat saja – apa tiga poin utama yang ingin Anda sampaikan? Tuliskan ketiga kalimat itu. Seluruh pesan Anda harus mudah dibaca di layar ponsel. Analisis kami menemukan bahwa pesan di bawah 100 kata adalah yang terbaik, dan tingkat respons menurun signifikan ketika jumlah kata meningkat melebihi 500 kata.

Tentu saja, isi dan nada pesan juga penting. Para ahli yang berhasil mendapatkan respons terbaik memperlakukan pesan mereka seperti catatan tulisan tangan dengan sentuhan pribadi. Mereka membiarkan suara mereka keluar dan berbicara seperti manusia. Mereka menemukan kesamaan dengan merujuk minat yang sama, sekolah yang sama, atau teman yang sama. Menurut penelitian kami, faktor hubungan yang sama meningkatkan penerimaan pesan-pesan ini sebesar 51%, lalu faktor sekolah yang sama pada saat yang sama (53%).

3. Mintalah saran dan manfaatkan transisi.

Ada pepatah dalam penggalangan dana: “Jika Anda meminta nasihat, Anda akan mendapatkan uang; jika Anda meminta uang, Anda hanya akan mendapatkan nasihat.” Mintalah nasihat, jangan menodong orang karena itu percuma.

Seringkali cara terbaik untuk meminta saran adalah dengan bertanya langsung. Sederhana saja, Anda bisa katakan  “Saya punya beberapa ide dan ingin sekali mendengar pendapat Anda. Bisakah saya membelikan Anda kopi?” Atau “Saya bingung masalah ini, pengalaman Anda akan sangat membantu saya. Apa Anda punya 15 menit untuk ngobrol?.”

Dan jika Anda berada dalam masa transisi – mulai bekerja di tempat baru, ganti bidang usaha, atau pindah ke kota baru – raih peluang untuk menjangkau orang, meminta nasihat mereka, dan menyerap kebijaksanaan mereka.

4. Bayar duluan (Traktir teman Anda).

Cara terbaik untuk membangun hubungan adalah dengan membantu orang lain dengan senang dan ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Anda akan merasakan kenikmatan, memberi akan melatih keikhlasan Anda, dan mengajari Anda apa yang orang lain hargai.

Ini juga membuka kesempatan bagi Anda untuk menanyakan sesuatu kepada mereka di masa depan. Anda tidak harus menawarkan diri untuk membantu dalam setiap keadaan, tetapi sediakan diri Anda sebagai sumber daya bagi orang-orang, terutama bagi orang-orang yang baru memulai karier mereka.

Saya membuat diri saya mudah didekati dengan mengumumkan email dan nomor telepon saya secara online dan menanggapi dengan cepat permintaan informasi dari orang-orang yang berada di awal karir mereka selama saya dapat membantu.

Ketika Anda membangun jaringan online Anda, jangan abaikan orang yang sudah Anda kenal. Jaringan Anda berakar pada hubungan kehidupan nyata yang ada, jadi berusahalah berhubungan lebih teratur dengan kolega, klien, mitra, dan mentor yang memiliki pengalaman langsung bekerja dengan Anda sehari-hari.

Media sosial membuka kemungkinan luar biasa untuk memperkuat jaringan Anda. Pastikan Anda memanfaatkan media sosial sebagai perpanjangan dari cara Anda berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata: terhubung dengan orang-orang secara pribadi dengan menemukan titik temu, kemudian membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang, daripada hanya sekali transaksi lalu sudah. (MZ)

Oleh: Doug Camplejohn (Harvard Business Review)

Rabu, 10 Oktober 2018

Perut Buncit dalam Pandangan Islam

Semua orang tentu mendambakan bentuk tubuh yang ideal serta langsing, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus. Tubuh yang terlalu gemuk tidak selamanya menunjukkan tubuh yang sehat, demikian juga tubuh yang kurus, bukan berarti dia sedang sakit-sakitan.

Seberapa Idealkah berat tubuh anda? Ukur disini

Jika berbicara berat tubuh ideal, ada rumus yang biasa digunakan untuk mengukurnya, yaitu BMI (body mess index) alias IMT (Index Massa Tubuh). Rumus itu sudah sangat umum dijadikan alat hitung badan ideal. Rumusnya adalah; Berat Badan Ideal = Berat Badan (Kg) : (Tinggi Badan x Tinggi Badan).  Sebagai contoh, Berat Badan 50 Kg : (1,68 m x 1,68 m) = 45 : 2,82 = 17,0 adalah Nilai BMI anda.

Hasil dari rumus perhitungan BMI telah memiliki kriteria dan kategori dari WHO (Badan Kesehatan Dunia), kriteria tersebut adalah;

Standar untuk Wanita

Nilai BMI Kategori
< 18 Kurus
18-25 Normal
25-27 Kegemukan
>27 Obesitas

 

Standar untuk Pria

Nilai BMI Kategori
< 17 Kurus
17-23 Normal
23-27 Kegemukan
>27 Obesitas

 

Dari rumus diatas, anda termasuk kategori apa? Apakah Kurus, Normal, Kegemukan atau Obesitas?. Jika terlalu gemuk atau Obesitas, maka anda harus mulai memikirkan program diet dan rajin puasa sunnah. Dan jika terlalu kurus, mungkin anda harus mulai menerapkan pola hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi.

Allah tidak melihat bentuk Fisik

Pada hakekatnya, Islam tidak melihat fisik dan bentuk tubuh seseorang. Apakah anda orang yang tampan atau cantik, demikian juga apakah tubuh anda tinggi semampai, atau pendek. Karena yang Allah SWT lihat adalah ketaqwaannya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

Bagaimana Pandangan Islam tentang Kegemukan?

Bagaimana dengan badan yang gemuk? Sebagaimana disebutkan dalam judul pada artikel ini. Badan yang gemuk tidak selamanya negatif. Karena ada orang yang berbadan gemuk karena faktor keturunan atau karena berbadan sehat, dan ada juga karena faktor banyak terlalu banyak makan serta bermalas-malasan yang mengakibatkan kegemukan. Dan inilah yang tercela dalam Islam.

Kegemukan dalam IslamDalam salah satu Hadits, Rasulullah SAW bersabda

خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ

“Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiaannya, bernazar tapi tidak melaksanakannya, dan nampak pada mereka kegemukan”. (HR. Bukhari 2651 dan Muslim 6638)

Menurut keterangan al-Qurtubi (wafat 671 H), Hadits ini adalah celaan bagi orang gemuk. Karena gemuk yang bukan bawaan penyebabnya banyak makan, minum, santai, foya-foya, selalu tenang, dan terlalu mengikuti hawa nafsu. Ia adalah hamba bagi dirinya sendiri dan bukan hamda bagi Tuhannya, orang yang hidupnya seperti ini pasti akan terjerumus kepada yang haram.

Al-Qurthubi juga menegaskan, tradisi banyak makan, hobi kuliner, adalah kebiasaan orang kafir. Beliau melanjutkan, Allah mencela orang kafir karena banyak makan. Barangsiapa yang banyak makan dan minum, maka ia akan semakin rakus dan tamak, bertambah malas dan banyak tidur di malam hari. Siang harinya dipakai untuk makan dan minum, sedangkan malamnya hanya untuk tidur. (Tafsir al-Qurthubi, 11/67)

Mula Ali Qori mengatakan,

وَأَمَّا مَا وَرَدَ أَنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ السَّمِينَ ; فَمَحْمَلُهُ إِذَا نَشَأَ عَنْ غَفْلَةٍ وَكَثْرَةِ نِعْمَةٍ حِسِّيَّةٍ كَمَا يَدُلُّ عَلَيْهِ رِوَايَةُ يُبْغِضُ اللَّحَّامِينَ

“Riwayat yang menunjukkan bahwa Allah membenci orang gemuk, dipahami jika gemuk ini terjadi karena kelalaian, terlalu banyak menikmati kenikmatan lahir, sebagaimana yang ditunjukkan dalam riwayat tentang kebencian bagi orang gendut”. (Jam’ul Wasail fi Syarh as-Syamail, 1/34).

Komentar Umar bin Khattab r.a. terhadap orang yang Perutnya Buncit

Dalam suatu kisah, Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah bertemu seseorang di jalan, dan bertanya kepadanya; “Kenapa perutmu besar seperti ini (buncit)?“, tanya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. “Ini karunia dari Allah,” jawab orang tersebut. “Ini bukan berkah, tapi azab dari Allah!”, seru Umar.

Umar pun melanjutkan: “Hai sekalian manusia, hai sekalian manusia. Hindari perut yang besar. Karena membuat kalian malas menunaikan shalat, merusak organ tubuh, menimbulkan banyak penyakit. Makanlah kalian secukupnya. Agar kalian semangat menunaikan shalat, terhindar dari sifat boros, dan lebih giat beribadah kepada Allah.”

Dalam kisah diatas, Umar mengajak kepada kaum Muslimin untuk memperhatikan bentuk tubuh agar terhindar dari kegemukan. Karena badan yang gemuk dapat mendatangkan sifat malas dalam beribadah, mauoun bekerja, serta dapat mendatangkan berbagai penyakit.

Bentuk Fisik Rasulullah SAW

Ternyata Rasulullah Muhammad SAW adalah suri tauladan dari segala sisi, termasuk bentuk tubuh. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah sakit, kecuali hanya 2 kali dalam hidupnya. Bentuk tubuhnya juga sangat ideal, dada dan perutnya datar, tidak besar dan buncit perutnya.

Dari Al-Hasan, dari Hindi, ia berkata, “Rasulullah itu berdada lebar. Antara perut dan dada berukuran sama.” (HR. Ath-Thabarani dan Az-Zabidi)

Dari Ummu Hani, ia menuturkan, “Saya tidak melihat bentuk perut Rasulullah kecuali saya ingat lipatan kertas-kertas yang digulung antara satu dengan yang lain.” (HR. Ath-Thabarani) dalam riwayat lain: “perutnya bagai batu-batu yang bersusun”

Istilah “batu-batu yang tersusun” kalau pengertian kita sekarang adalah sispek dan atletis. Jelas dalam riwayat tersebut diketahui bahwa perut Rasulullah SAW pun tidak buncit.

Gemuk yang tidak tercela

Bagi anda yang memiliki perut yang buncit, badan yang gemuk namun bukan karena banyak makan dan bermalas-malasan. Tentu tidak termasuk gemuk yang tercela. Dia tetap menjadi kebaikan, pahlawan bagi umat, dan berusaha melakukan aktivitas yang bermanfaat. Sebagai bentuk kesyukuran karena diberikan badan yang kuat serta sehat.

Aisyah menceritakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُوتِرُ بِتِسْعِ رَكَعَاتٍ فَلَمَّا بَدَّنَ وَلَحُمَ صَلَّى سَبْعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan witir 9 rakaat, setelah beliau mulai gemuk dan berdaging, beliau shalat 7 rakaat. Kemudian shalat 2 rakaat sambil duduk.” (HR. Ahmad 26651 dan Bukhari 4557)

Karena faktor usia, Rasulullah SAW pun mengalami gemuk dan badannya mulai berdaging. Namun gemuknya Rasulullah SAW sama sekali tidak menjauhkannya dari amalan Ibadah, baik wajib maupun Sunnah. Rasulullah SAW hanya menyesuaikan ibadah sunnahnya sesuai dengan kemampuannya. Yang biasa melaksanakan Shalat Witir 9 rakaat sambil berdiri, menjadi 7 rakaat dengan berdiri dan sisanya 2 rakaat dengan duduk. Jumlah rakaatnya tetap, namun 2 rakaat terakhir beliau SAW lakukan dengan cara duduk.

Kesimpulan

Bila badan anda gemuk, dan perut anda buncit. Coba evaluasi diri apakah pola makan sudah baik (cukup) atau berlebihan yang menyebabkan kegemukan? Jika makan berlebihan, kurangi dan imbangi dengan memeperbanyak puasa sunnah dan olahraga. Karena Islam tidak menyukai kegemukan yang diakibatkan banyak makan dan bermalas-malasan.

Namun jika kegemukan anda tidak karena banyak makan dan tidak bermalas-malasan, maka kegemukan seperti itu tidaklah termasuk gemuk yang tercela. Karena yang dinilai negatif adalah sifat berlebihan dalam makan, sifat malas dalam beribadah dan beraktifitas. Adapun bentuk fisik manusia, Allah tidak melihatnya selain prestasi ibadah dan nilai taqwa dari seiap hamba. [WARDAN/DR]