Tampilkan postingan dengan label March 09. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label March 09. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Maret 2019

Motivation Training Santri Putri Kelas Akhir 6 TMI Darunnajah

Motivation Training Santri Putri Kelas Akhir 6 TMI Darunnajah

(DN.COM/almas_khalishah)

Mengatakan “ Saya Tidak Punya Waktu” adalah Cara Yang Salah Untuk Menolak Undangan

 

Untuk menjaga sebuah hubungan, persahabatan dan lain sebagainya, penting untuk membangun komunikasi yang baik. Dan menghargai perasaan orang lain, sebuah frase mungkin saja bisa merusak hubungan antara seseorang.

Maka sangatlah penting untuk memilih kalimat yang bijak saat menyampaikan sesuatu kepada teman, keluarga dan Kolega. Berikut dari website Harvard Business riview, penelitian yang dilakukan oleh : Grant Donnelly, mengenai hal tersebut.

Musim Semi kemarin, saya menerima undangan pernikahan teman di Paris, Saya sangat bersemangat mendengar kabar ini, tapi di sisi lain ada dua kekhawatiran besar yang mengganggu fikiran : pergi ke Paris tentu akan menghabiskan banyak uang, dan juga akan menghabiskan banyak waktu liburan saya yang terbatas.

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk tidak menghadiri pernikahan tersebut. Tetapi saya berfikir keras bagaimana cara menyampaikan hal tersebut kepada teman saya. Apakah saya mengatakan hanya tak bisa hadir ? atau perlu menceritakan saya tak punya cukup waktu liburan dan uang untuk melakukan perjalanan ke paris ? apa yang harus saya lakukan agar tidak menyakiti persaanya ataupun tanda-tanda bahwa saya tidak menghargai persahabatan kami ?

Seperti acara-acara social lainnya, kita mendapatkan undagan dari teman dan Kolega. Biasanya membutuhkan baik uang maupun waktu. Jadi karena dua hal tersebut cenderung menjadi alasan untuk tidak bias menghadiri undangan ataupun acara tertentu.

Tetapi herannya, kita hanya mengetahui sedikit dari penelitian tentang bagaimana orang lain memahami komunikasi ini, dan bagaimana sebenarnya “alasan” kita mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain.

Bersama dengan Kolega Ashley Whillans, Michael Norton, dan Anne Wilson. Saya berangkat untuk mempelajari efek tersebut, dengan menganalisa percakapan nyata dengan data yang ada di Twitter dan melakukan percobaan di tiga lab.

Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwasanya memberikan alasan mengenai “tidak memiliki waktu cukup” akan menyakiti sebuah hubungan. Sedangkan memberikan alasan mengenai “tidak memiliki uang yang cukup” akan membantu mereka.

Bagaimana Orang-orang Merespon Alsan Kita

Bagian pertama yang saya pelajari terkai analisis percakapan diantara para pengguna Twitter. Lebih dari 1 Minggu di tahun 2018, saya menarik beberapa tweet yang spesifik dengan kalimat “saya tidak punya uang” dan saya “tidak punya waktu”. Memberi saya dataset sebanyak 2.310 tweets. Dengan sedikit banyak dari setengah yang mengkomunikasikan waktu yang terbatas. Salah satu cara pengguna menaggapi itu dengan “menyukai” tweets tersebut.

Saya menemukan bahwa pengguna twitter secara signifikan kecil kemungkinnanya “menyukai” sebuah tweet “daya tidak punya waktu” dibandingkan “saya tidak punya uang”

Penilitian ini memberikan bukti awal bahwa orang-orang merespon kalimat “tidak punya waktu” dan “tidak punya uang” dengan berbeda. Tetapi di twitter memang komunikasi terjalin tidak personal dan Bersama orang asing. Lalu apa yang terjadi jika diantara teman dan Kolega ?

Untuk mengecek hal ini, saya mengambil sampel kepada 327 pasangan yang akan menikah di United Sate, yang saat ini sedang merencanakan pernikahan mereka, dan telah menyebarkan undangan pernikahan. Saya bertanya kepada mereka, berapa banyak tamu yang menolak undangan mereka karena tidak punya waktu dan tidak punya uang ? Rata-rata mereka menyampaikan menerima alasan tersebut, karena terkesan umum.

Saya juga menanyakan ke beberapa pasangan untuk menggambarkan bagaimana perasaan mereka kepada orang-orang yang baru-baru ini menolak undangan karena uang dan waktu. Saya ingin mengetahu perasaan mereka dan kedekatan mereka dengan tamu sebelum dan sesudah tamu tersebut menolak.

Pengantin mengatakan, sebelum mendapatkan respon tersebut,  mereka merasa dekat dengan tamu, tapi setelah mendengan berita tersebut, merasa renggang dengan tamu yang mengutip “tidak punya waktu”dibandingkan mereka yang “tidak punya uang”

Jika kita ingin mengatur uang dan waktu kita dengan efektif – dua sumber kehidupan yang langka dan berharga – kita butuh mengatakan “tidak” untuk suatu hal. Tapi jika kita ingin memperthankan hubungan, dan persahabatan kita harus melakukannya dengan cara yang benar. Menurut Hasil dari penelitian, saya menyarankan ketika kita menolak undangan seseorang karena tidak memiliki waktu yang cukup, bagi orang tersebut akan terdengar seperti kita tidak menghargai mereka. Ini akan membuat mereka menjadi kurang dekat dengan kita, dan mungkin mereka tidak ingin membantu kita di masa yang akan datang.

Maka, lebih bijak jika menggunakan kata “tidak memiliki uang” (anggap itu benar), sebagaimana orang-orang cenderung mempertanyakan seberapa besar kamu menghargai sebuah hubungan. Sebaliknya kamu akan terlihat jujur dan baik, yang akan menghasilkan banyak  energi positif dan niat baik.

Ketika saya sudah membatalkan undangan pernikahan teman saya, saya akhirnya memberikan respon bahwa saya tidak punya waktu untuk pergi ke Paris, beberapa hal menjadi dingin diantara kita. Mengingat bukti yang saya ungkapkan, saya langsung telepon dan mengirim SMS mengenai update pernikahannya.

Akan ada waktu dimana memang kita benar-benar tidak memiliki waktu untuk menghadiri sebuah acara. Tetapi penting menyadari bahwa hubungan itu perlu perhatian extra untuk pulih, dan Anda mungkin ingin mencari waktu untuk melakukan itu.

Jumat, 08 Maret 2019

Rahasia Memimpin Perubahan Organisasi Adalah: Empati

Saya bekerja dengan pemimpin organisasi yang sedang memikirkan strategi untuk lebih maju. Ia berharap strategi ini akan membawa perubahan besar yang memengaruhi setiap aspek organisasi, mulai layanan yang ditawarkan hingga struktur organisasinya.

Saya duduk dengan para pemimpin organisasi tersebut, memikirkan cara yang akan mereka pakai untuk berkomunikasi dengan bawahan mereka. Saya tidak menanyakan perubahan apa yang mereka inginkan, tetapi saya bertanya tentang bagaimana pandangan dan perasaan anggota organisasi tentang masa depan organisasi tersebut.

Kami mulai dengan tim pemimpin organisasi, karena sebagai konsultan komunikasi, saya telah mengamati pola yang sama di banyak organisasi: cara informasi disampaikan kepada karyawan adalah lebih penting daripada informasi itu sendiri.

Kurangnya empati ketika menyampaikan informasi tentang perubahan organisasi akan menyebabkan kegagalan.

Studi tentang perubahan organisasi menunjukkan, bahwa para semua pemimpin setuju: jika Anda ingin memimpin perubahan organisasi yang sukses, berkomunikasi secara empatik adalah sangat penting.

Tetapi kenyataannya sebagian besar pemimpin tidak tahu cara berempati. Bahkan, kami melakukan survei terhadap lebih dari 200 pemimpin organisasi terkemuka dan menemukan 69% mereka berencana untuk melakukan upaya perubahan. Sayangnya, 50% dari mereka mengatakan belum mempertimbangkan perasaan tim mereka tentang perubahan tersebut.

Jika Anda seorang pemimpin organisasi yang berharap untuk melakukan perubahan organisasi yang sukses, Anda perlu memastikan tim Anda ikut di dalam proses dan termotivasi untuk membantu mewujudkannya.

Strategi berikut dapat membantu Anda lebih memahami perspektif anggota organisasi Anda:

Fahami Karakter Anggota Organisasi Anda di Setiap Tahap

Konsultan perubahan biasanya menyarankan para pemimpin untuk membuat gambaran karakter dari berbagai jenis anggota organisasi, ketika mereka memulai inisiatif perubahan. Tetapi, mengingat keinginan manusia terus berkembang sepanjang proses, Anda harus mengulangi kembali pembuatan gambaran karakter ini di setiap tahap perubahan.

Pertama kita perlu menciptakan gambaran umum karakter karyawan, dan memetakannya menjadi beberapa kelompok berdasarkan level dan fungsi. Kemudian kita wawancarai masing-masing anggota organisasi di setiap kelompok untuk mendapatkan contoh cara berfikir mereka. Selama wawancara, kami mengajukan pertanyaan yang dirancang untuk mengungkap kepercayaan, perasaan, dan kekhawatiran tentang strategi organisasi saat ini. Kami juga bertanya apa ada perubahan spesifik yang mereka harapkan (atau tidak akan) dilakukan oleh manajemen.

Dengan menggunakan hasil dari wawancara ini, kami dapat mengidentifikasi bagaimana perasaan setiap kelompok anggota organisasi tentang upaya perubahan, dan merencanakan komunikasi berdasarkan rasa ssemangat, takut, atau frustrasi mereka. Anggota organisasi yang bersemangat dengan perubahan itu akan memotivasi rekan-rekan mereka yang enggan.

Saat proses perubahan organisasi Anda sudah berjalan dan Anda memasuki fase baru perubahan, pastikan Anda mengulangi kembali proses wawancara dan mendengarkan dengan empatik. Dengan begitu, Anda dapat mengukur perasaan orang dari waktu ke waktu, dan menyesuaikan komunikasi Anda agar sesuai dengan suasana hati mereka.

Beritahu Orang Apa Yang Diharapkan

Anda tetap perlu merahasiakan beberapa fakta selama masa perubahan. Tapi Anda juga perlu lebih terbuka kepada karyawan, semakin banyak informasi yang Anda berikan kepada orang-orang Anda, semakin mereka akan bisa menghadapi ketidaknyamanan. Jadi, pelajari ketakutan tim Anda, lalu akui secara terbuka.

Seorang karyawan mungkin akan menyatakan kekhawatirannya, bahwa perubahan akan menyebabkan karyawan berbakat pergi, menyebabkan beban yang lebih besar pada karyawan yang tersisa. Pemimpin bisa mengakui beban kerja yang ada memang berat, lalu pemimpin membagi data yang menjelaskan bahwa pergantian organisasi ini dirancang untuk mengurangi efek dari anggota organisasi yang malas. Dia juga perlu menjelaskan bagaimana biro SDM berusaha mempercepat proses perekrutan dan memperketat wawancara untuk memastikan anggota baru organisasi lebih berpeluang menjadi rekan yang berkinerja tinggi.

Menjadi pemimpin yang berbicara terbuka dalam forum organisasi mungkin tidak mudah, mengingat biasanya organisasi lebih suka merahasiakan urusan rumah tangganya. Tetapi respon yang akan diterima dari karyawan akan membangun kredibilitas dan kepercayaan terhadap pemimpin, karena berhasil mengatasi ketakutan-ketakutan yang ada.

Libatkan Individu di Semua Tingkat

Perubahan organisasi tidak akan berhasil tanpa melibatkan kalangan luas. Sebuah bank besar Eropa mencontoh ini dengan baik. Mereka menjalankan “perencanaan berbasis dialog”, pemimpin organisasi menyampaikan sebuah rencana penting di organisasi mereka, kemudian meminta direktur eksekutifnya untuk menambahkan “bab” sesuai dengan bidang mereka masing-masing.

Setiap direktur kemudian meminta tim di bawah mereka untuk menambah sub bab, menggabungkan ide-ide tentang perubahan dan tanggung jawab mereka. Ini berlanjut sampai lima tingkat ke bawah, sampai ke manajer cabang, dan membantu setiap individu memahami bagian mereka. Latihan seperti ini dapat membantu semua orang merasa seperti peserta aktif, memiliki sesuatu yang berharga untuk ditambahkan.

Di bank yang sama, direktur operasi ritel lalu menulis tentang bagaimana pelanggan menginginkan proses perbankan menjadi lebih cepat. Ketika anggota staf cabang membaca ini, mereka menambahkan bahwa alat scanner kantor sering rusak, membuat stres dan memperlambat semua proses.

Pada akhirnya, para anggota organisasi garis depan inilah yang akan membawa perubahan yang bermanfaat di organisasi dan memnghasilkan kebaikan untuk semua pihak.

Praktik organisasi memang berkembang pesat, tetapi ada satu teknik yang harus selalu diandalkan oleh para pemimpin untuk memotivasi dan memimpin secara efektif: komunikasi empatik.

Kembangkan dan tunjukkan empati untuk semua orang yang terlibat dalam transisi organisasi Anda, dan Anda akan memimpin tim yang merasa dihargai, diikutsertakan, dan didorong untuk membantu inisiatif Anda berhasil.

Oleh: Patti Sanchez (Harvard Business Review)

Kunjungan Pondok Pesantren Al-Hasanah Bengkulu Di Pondok Pesantren Darunnajah

Daftar Pemenang Lomba Keterampilan Agama Darunnajah Kids Competition XIV

Berikut lampiran pemenang-pemenang lomba keterampilan agama Darunnajah Kids Competitions

Jangan Bilang “Saya Tidak Punya Waktu” untuk Menolak Undangan

Saya baru saja menerima undangan untuk menghadiri pernikahan seorang teman. Saya sangat bersemangat, dia sahabat baik saya. Tapi ada masalah besar di fikiran saya: bepergian ke luar kota akan menghabiskan banyak uang, juga akan menghabiskan sebagian besar waktu liburan saya yang terbatas.

Saya memutuskan untuk tidak menghadiri pernikahan, saya berfikir keras bagaimana caranya memberitahu teman saya. Apakah saya cukup bilang: maaf saya belum bisa. Atau saya harus berterus terang bahwa saya tidak punya cukup waktu dan uang? Bagaimana cara terbaik untuk tidak menyakiti perasaannya? Atau menyebabkan salah faham seolah saya tidak menghargai persahabatan kita?

Acara sosial (kumpul-kumpul) baik diadakan oleh teman atau keluarga biasanya memerlukan waktu dan uang. Hal ini cenderung menjadi alasan kita ketika kita tidak bisa melakukan sesuatu. Sayangnya kita hanya tahu sedikit bagaimana cara terbaik memahamkan orang lain, dan bagaimana alasan kita bisa mempengaruhi hubungan.

Saya bersama tim mempelajari pola komunikasi ini dengan menganalisis data percakapan nyata di Twitter dan melakukan tiga percobaan laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa memberi alasan tidak punya cukup waktu dapat merusak hubungan, sedangkan memberi alasan tidak punya cukup uang dapat membantu mereka memahami kondisi kita.

Bagaimana orang menanggapi alasan kita?

Kami menemukan bahwa pengguna Twitter lebih kecil kemungkinannya untuk “like” tweet tentang tidak punya waktu dibandingkan dengan tidak punya uang.

Untuk menguji ini, kami merekrut sampel dari 327 pengantin dan pria yang tinggal di Amerika Serikat yang saat ini merencanakan pernikahan mereka dan telah mengirimkan undangan pernikahan. Kami bertanya kepada mereka berapa banyak tamu yang menolak undangan mereka karena tidak punya cukup uang atau cukup waktu. Rata-rata, peserta melaporkan menerima dua alasan tentang uang dan dua alasan tentang waktu dalam menanggapi undangan mereka (orang-orang juga mengirim alasan lain), menunjukkan bahwa alasan ini sama-sama umum.

Saya juga meminta pasangan untuk merenungkan seberapa dekat perasaan mereka kepada orang-orang yang baru-baru ini menolaknya karena uang atau waktu – saya ingin tahu seberapa dekat mereka merasa sebelum dan sesudah ditolak. Pengantin mempelai pria mengatakan bahwa, sebelum menerima tanggapan, mereka merasa sama dekat dengan tamu-tamu ini; tetapi setelah mendapatkan berita, mereka melaporkan merasa secara signifikan kurang dekat dengan undangan yang bilang tidak punya waktu dibandingkan dengan mereka yang bilang tidak punya uang.

Alasan tidak punya waktu mengakibatkan orang merasa kurang dekat dengan teman, sedangkan alasan tidak punya uang menyebabkan peserta merasa jauh lebih dekat dengan teman. Peserta menemukan alasan uang jauh lebih dapat dipercaya daripada alasan waktu.

Begitu menyentuh perasaan, menariknya kita sering tidak menyadari hal ini ketika kita membuat alasan.

Memang, jika kita ingin mengatur waktu dan uang kita secara efektif – dua dari sumber daya kehidupan yang paling langka dan berharga – kita harus mampu mengatakan “tidak” pada banyak hal. Tetapi jika kita ingin menjaga hubungan kita, kita harus melakukannya dengan cara yang benar.

Ketika kita menolak undangan seseorang karena kita tidak punya cukup waktu, orang tersebut akan menganggap kita tidak menghargai mereka. Ini membuat mereka merasa kurang dekat dengan kita dan mungkin bahkan kurang mau membantu kita di masa depan.

Akan lebih bijaksana untuk mengatakan bahwa Anda tidak punya cukup uang (anggap itu benar), karena orang-orang cenderung mempertanyakan seberapa besar Anda menghargai hubungan tersebut. Anda akan dianggap jujur ​​dan dapat diandalkan, disukai dan juga dipercaya.

Tentu saja, ada keadaan di mana alasan uang mungkin tidak bisa digunakan, (misalnya berkomunikasi dengan pembimbing Anda); dalam kasus ini, saya menemukan dalam penelitian lain bahwa lebih akan lebih baik kalau Anda menolak dengan mengatakan “sedang kurang sehat” dibandingkan “sedang tidak punya waktu,” karena orang menganggap kesehatan memang kurang bisa dikontrol daripada waktu.

Ketika saya harus menolak undangan pernikahan teman saya, saya akhirnya menjawab bahwa saya tidak punya cukup waktu untuk melakukan perjalanan ke tempatnya. Lalu saya akan sering menelepon dan mengirim pesan kepadanya untuk menanyakan bagaimana kabar pernikahannya. Penting disadari bahwa memelihara hubungan baik itu perlu perhatian ekstra, dan Anda perlu menyediakan waktu untuk itu.

Oleh: Grant Donnelly (Harvard Business Review)

Cara Terbaik Menggunakan Media Sosial untuk Memperluas Jaringan Anda

Saya percaya media sosial memiliki kekuatan untuk memperluas dan mengembangkan jaringan seseorang, memperbaiki hubungan yang lemah, dan memelihara hubungan dari waktu ke waktu. Saya telah memahami nilai bisnis media sosial secara langsung, sebab saya sudah sudah pernah menjadi pimpinan tiga startup teknologi terkemuka.

Pengalaman saya didukung oleh penelitian bahwa 75% pembeli awam dan 84% pemimpin usaha menggunakan media sosial sebagai pertimbangan membeli sesuatu. Laporan penjualan 2018 LinkedIn menemukan bahwa 89% marketing handal menganggap media sosial sangat penting meraih penjualan.

Mungkin sulit untuk menjangkau orang yang tidak Anda kenal. Saya pernah menjadi ujung tombak marketing selama lebih dari 30 tahun. Saya tahu seberapa cepat percakapan di internet bisa berubah menjadi penjualan. Semakin natural interaksi Anda dalam media sosial akan semakin baik.

Berikut ini saran saya untuk membangun jaringan bisnis yang lebih kuat dengan bantuan media sosial:

1. Jangan terobsesi dengan senioritas.

Terlalu banyak orang yang fokus mencoba jaringan dengan orang-orang senior, seperti pengusaha atau orang-orang ekonomi atas.  Daripada mengincar orang kaya, lebih baik Anda bangun hubungan dengan teman-teman asli Anda, yang benar-benar mengenal Anda dan berinteraksi dengan Anda di dunia nyata.

Jaringan seperti inilah yang akan terus tumbuh secara alami, sampai mencapai level senior, teman-teman Anda akan menjadi orang sukses. Saat itu, anda bisa panen peluang semudah mengangkat telepon.

Anda punya peluang lebih besar untuk mendapat respons. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat respons berbeda secara signifikan antara level senioritas penerima. Teman-teman kerja adalah yang paling sering merespons pesan seseorang. Sementara kalangan senior paling sedikit merespons pada orang yang tidak mereka kenal.

2. Kirim pesan pertama Anda dengan singkat dan pribadi.

Orang tidak punya kesabaran untuk membaca pesan panjang yang terlihat seperti iklan, terutama jika ini adalah pertama kalinya mereka menerima pesan Anda. Saya hampir selalu mengabaikan pesan awal yang lebih dari satu paragraf. Jadi, singkat saja – apa tiga poin utama yang ingin Anda sampaikan? Tuliskan ketiga kalimat itu. Seluruh pesan Anda harus mudah dibaca di layar ponsel. Analisis kami menemukan bahwa pesan di bawah 100 kata adalah yang terbaik, dan tingkat respons menurun signifikan ketika jumlah kata meningkat melebihi 500 kata.

Tentu saja, isi dan nada pesan juga penting. Para ahli yang berhasil mendapatkan respons terbaik memperlakukan pesan mereka seperti catatan tulisan tangan dengan sentuhan pribadi. Mereka membiarkan suara mereka keluar dan berbicara seperti manusia. Mereka menemukan kesamaan dengan merujuk minat yang sama, sekolah yang sama, atau teman yang sama. Menurut penelitian kami, faktor hubungan yang sama meningkatkan penerimaan pesan-pesan ini sebesar 51%, lalu faktor sekolah yang sama pada saat yang sama (53%).

3. Mintalah saran dan manfaatkan transisi.

Ada pepatah dalam penggalangan dana: “Jika Anda meminta nasihat, Anda akan mendapatkan uang; jika Anda meminta uang, Anda hanya akan mendapatkan nasihat.” Mintalah nasihat, jangan menodong orang karena itu percuma.

Seringkali cara terbaik untuk meminta saran adalah dengan bertanya langsung. Sederhana saja, Anda bisa katakan  “Saya punya beberapa ide dan ingin sekali mendengar pendapat Anda. Bisakah saya membelikan Anda kopi?” Atau “Saya bingung masalah ini, pengalaman Anda akan sangat membantu saya. Apa Anda punya 15 menit untuk ngobrol?.”

Dan jika Anda berada dalam masa transisi – mulai bekerja di tempat baru, ganti bidang usaha, atau pindah ke kota baru – raih peluang untuk menjangkau orang, meminta nasihat mereka, dan menyerap kebijaksanaan mereka.

4. Bayar duluan (Traktir teman Anda).

Cara terbaik untuk membangun hubungan adalah dengan membantu orang lain dengan senang dan ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Anda akan merasakan kenikmatan, memberi akan melatih keikhlasan Anda, dan mengajari Anda apa yang orang lain hargai.

Ini juga membuka kesempatan bagi Anda untuk menanyakan sesuatu kepada mereka di masa depan. Anda tidak harus menawarkan diri untuk membantu dalam setiap keadaan, tetapi sediakan diri Anda sebagai sumber daya bagi orang-orang, terutama bagi orang-orang yang baru memulai karier mereka.

Saya membuat diri saya mudah didekati dengan mengumumkan email dan nomor telepon saya secara online dan menanggapi dengan cepat permintaan informasi dari orang-orang yang berada di awal karir mereka selama saya dapat membantu.

Ketika Anda membangun jaringan online Anda, jangan abaikan orang yang sudah Anda kenal. Jaringan Anda berakar pada hubungan kehidupan nyata yang ada, jadi berusahalah berhubungan lebih teratur dengan kolega, klien, mitra, dan mentor yang memiliki pengalaman langsung bekerja dengan Anda sehari-hari.

Media sosial membuka kemungkinan luar biasa untuk memperkuat jaringan Anda. Pastikan Anda memanfaatkan media sosial sebagai perpanjangan dari cara Anda berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata: terhubung dengan orang-orang secara pribadi dengan menemukan titik temu, kemudian membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang, daripada hanya sekali transaksi lalu sudah. (MZ)

Oleh: Doug Camplejohn (Harvard Business Review)

Grand Closing Pekan Ilmiah dan Keterampilan Santri Ke-2 Putra

(irsyad/WARDAN)