Tampilkan postingan dengan label October 22. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label October 22. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Oktober 2018

Maimunah binti Al-Harits: Ummahatul Mukminin Terakhir

Dialah Maimunah binti al-Harits bin Huzn bin al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah al-Hilaliyah. Saudari dari Ummul Fadhl istri Abbas, dan beliau adalah bibi dari Khalid bin Walid dan juga bibi dari lbnu Abbas.

Beliau termasuk pemuka kaum wanita yang masyhur dengan keutamaannya, nasabnya, dan kemuliaannya. Mulanya beliau menikah dengan Mas’ud bin Amru ats-Tsaqafi sebelum masuk Islam, sebagaimana beliau. Namun beliau banyak mondar-mandir ke rumah saudaranya Ummu Fadhl, sehingga beliau mendengar sebagian kajian-kajian Islam dan tentang nasib dari kaum muslimin yang berhijrah. Sampai kabar tentang Badar dan Uhud yang mana hal itu menimbulkan bekas mendalam pada dirinya.

Tatkala tersiar berita kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar, kebetulan ketika itu Maimunah berada di rumah saudara kandungnya yaitu Ummu Fadhl, maka dia juga turut senang dan sangat bergembira. Namun manakala dia pulang di rumah suaminya ternyata dia mendapatkan, bahwa suaminya sedih dan berduka cita karena kemenangan kaum muslimin. Maka, hal itu memicu mereka pada pertengkaran yang mengakibatkan perceraian. Maka beliau keluar dan menetap di rumah al-‘Abbas.

Kisah MaimunahKetika telah tiba waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah yang mana Nabi SAW diperbolehkan masuk Makkah dan tinggal di dalamnya selama tiga hari untuk menunaikan haji dan orang-orang Quraisy harus membiarkannya.[1] Pada hari itu kaum muslimin masuk Makkah dengan rasa aman, mereka mencukur rambut kepalanya dengan tenang tanpa ada rasa takut. Benarlah janji yang haq, dan terdengarlah suara orang-orang mukmin membahana, “Labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaik…”

Mereka mendatangi Makkah dalam keadaan tertunda, setelah beberapa waktu bumi Makkah berada dalam kekuasaan orang-orang musyrik. Maka, debu tanah mengepul di bawah kaki orang-orang musyrik yang dengan segera menuju bukit-bukit dan gunung-gunung, karena mereka tidak kuasa melihat Muhammad dan para sahabatnya kembali ke Makkah dengan terang-terangan, kekuatan, dan penuh wibawa. Yang tersisa hanyalah para laki-laki dan wanita yang menyembunyikan keimanan mereka, sedangkan mereka mengimani bahwa pertolongan sudah dekat.

Maimunah adalah salah seorang yang menyembunyikan keimanannya tersebut. Beliau mendengarkan suara yang keras penuh keagungan dan kebesaran. Beliau tidak berhenti sebatas menyembunyikan keimanan, akan tetapi beliau inginkan agar dapat masuk Islam secara sempurna dengan penuh izzah (kewibawaan) yang tulus agar terdengar oleh semua orang tentang keinginannya untuk masuk Islam. Harapannya adalah kelak akan bernaung di bawah atap nubuwwah, sehingga dia dapat minum pada mata air agar memenuhi perilakunya yang haus akan akidah yang istimewa tersebut, akhirnya mengubah kehidupan beliau menjadi seorang pemuka bagi generasi yang akan datang.

Dia bersegera menuju saudara kandungnya yakni Ummu Fadhl dengan perasaan yang tergesa-gesa untuk menjadi seorang ibu dari Ummahatul mukminin. Saudarinya tersebut kemudian membicarakan dengan suaminya ‘Abbas dan diserahkanlah urusan tersebut kepadanya. Tidak ragu sedikit pun ‘Abbas tentang hal itu, bahkan beliau bersegera menemui Nabi SAW dan menawarkan Maimunah untuk Nabi. Akhirnya Nabi menerimanya dengan mahar 400 dirham.[2] Dalam riwayat lain, bahwa Maimunah adalah seorang wanita yang menghibahkan dirinya kepada Nabi SAW maka turunlah ayat dari Allah Tabaraka wa Ta’ala:

“… dan perempuan mukmin yang menyerahkan diri kepada Nabi kalau Nabi mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin…” (QS. al-Ahzab: 50).[3]

Ketika sudah berlalu tiga hari sebagaimana yang telah ditetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah, orang-orang Quraisy mengutus seseorang kepada Nabi SAW. Mereka mengatakan, “Telah habis waktumu maka keluarlah dari kami.” Maka Nabi SAW menjawab dengan ramah:

Bagaimana menurut kalian jika kalian biarkan kami dan aku merayakan pernikahanku di tengah-tengah kalian dan kami suguhkan makanan untuk kalian??!”

Maka mereka menjawab dengan kasar, “Kami tidak butuh makananmu maka keluarlah dari negeri kami!”[4]

Sungguh ada rasa keheranan yang disembunyikan pada diri kaum musyrikin selama tinggalnya Nabi SAW di Makkah, yang mana kedatangan beliau meninggalkan kesan yang mendalam pada banyak jiwa. Sebagai bukti dialah Maimunah binti al-Harits, dia tidak cukup hanya menyatakan keislamannya bahkan lebih dari itu beliau daftarkan dirinya menjadi istri Rasul SAW, sehingga membangkitkan kemarahan mereka. Untuk berjaga-jaga Rasulullah SAW tidak mengadakan walimatul ‘urs dirinya dengan Maimunah di Makkah. Beliau mengizinkan kaum muslimin berjalan menuju Madinah. Tatkala sampai di suatu tempat yang disebut “Sarfan” yang berjarak 10 mil dari Makkah maka Nabi SAW memulai malam pertamanya bersama Maimunah r.a.. Hal itu terjadi pada bulan Syawal tahun 7 Hijriyah.

Mujahid berkata, “Dahulu namanya adalah Bazah, namun Rasulullah SAW menggantinya dengan Maimunah.[5] Maka sampailah Maimunah ke Madinah dan menetap di rumah nabawi yang suci sebagaimana cita-citanya yang mulia, yakni menjadi Ummul Mukminin yang utama, menunaikan kewajiban sebagai seorang istri dengan sebaik-baiknya, mendengar dan taat, setia dan ikhlas. Setelah Nabi SAW menghadap Ar-Rafliqul A’la, Maimunah hidup selama bertahun-tahun hingga 50 tahunan. Semuanya beliau jalani dengan baik dan takwa, serta setia kepada suaminya penghulu anak Adam dan guru seluruh manusia yakni Muhammad bin Abdullah SAW. Hingga karena kesetiaanya kepada suaminya, beliau berpesan agar dikuburkan di tempat di mana dilaksanakan walimatul ‘urs dengan Rasulullah.[6]

‘Atha’ berkata, “Setelah beliau wafat, saya keluar bersama Ibnu Abbas. Beliau berkata, ‘Apabila kalian mengangkat jenazahnya, maka janganlah kalian menggoncang-goncangkan atau menggoyanggoyangkan.’ Beliau juga berkata, “Lemah lembutlah kalian dalam memperlakukannya karena dia adalah ibumu’.”[7]

Berkata ‘Aisyah setelah wafatnya Maimunah, “Demi Allah telah pergi Maimunah, mereka dibiarkan berbuat sekehendaknya. Adapun demi Allah beliau adalah yang paling takwa di antara kami dan yang paling banyak bersilaturrahim.[8]

Keselamatan semoga tercurahkan kepada Maimunah yang mana dengan langkahnya yang penuh keberanian tatkala masuk Islam secara terang-terangan membuahkan pengaruh yang besar dalam mengubah pandangan hidup orang-orang musyrik dari jahiliyah menuju dienullah, seperti Khalid dan Amru bin ‘Ash r.a. dan semoga Allah meridhai para shahabat seluruhnya. [WARDAN/DR]

Sumber: Mereka adalah Para Sahabiyat

Footnote:

[1] lsi perjanjian bahwa Rasul dan para sahabat akan kembali pada tahun 6 Hijriyah, maka mereka tidak akan masuk pada tahun itu. Kemudian mereka masuk Makkah pada tahun berikutnya dan mereka menetap selama tiga hari. Lihatlah Isi perjanjian Hudaibiyah dalam Tarikh ath-Thabari (III/79) dan Thabaqat Ibnu Sa’ad (Il/70)

[2] Lihat Thabaqat Ibnu Sa’ad (VIII/133)

[3] Lihat As-Sirah lbnu Hisyam (IV/296), aI-Ishabah (Vlll/192), al-Istii’ab (IV/1916), Thabaqat Ibnu Sa’ad (Vlll/137) dan aI-Ahzab: 115.

[4] As-Sirah (IV/296), Thabaqat Ibnu Sa’ad (VIIl/138), ath-Thabari dalam ath-Tarikh (III/100) dan aI-Ishabah (VIII/192).

[5] Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat (Vlll/137) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (lV/30) dan dishahihkan serta disetujui oleh adz-Dzahabi.

[6] Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat (VIlI/139) dan al-Hakim dalam aI-Mustadrak (lV/31) dan dishahihkan serta disepakati oleh adz-Dzahabi.

[7] Separuh pertama diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat (VIII/140) dan al-Hakim (IV/32) dari jalan lain, dishahihkan dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Adapun separuh yang kedua dari perkataan Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh lbnu Sa’ad dari jalan al-Waqidi (Vlll/140).

[8] Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (Vlll/138) dan al-Hakim (lV/32), keduanya dari jalan Yazid bin al-Asham.

Juwariyah binti Al-Harits: Wanita Agung, Barakah bagi Kaumnya

Beliau adalah Juwairiyah binti al-Harits bin Abi Dhirar bin al-Habib al-Khuza’iyah al-Mushthaliqiyyah. Beliau adalah secantik-cantik seorang wanita. Beliau termasuk wanita yang ditawan tatkala kaum muslimin mengalahkan Bani Mushthaliq pada saat perang Muraisi’.

Hasil undian Juwairiyah adalah bagian untuk Tsabit bin Qais bin Syamas atau anak pamannya, tatkala itu Juwairiyah berumur 20 tahun. Dan akhirnya beliau selamat dari kehinaan sebagai tawanan/rampasan perang dan kerendahannya. Beliau menulis untuk Tsabit bin Qais (bahwa beliau hendak menebus dirinya), kemudian mendatangi Rasulullah SAW agar mau menolong untuk menebus dirinya.

kisah juwairiyahMaka menjadi ibalah hati Nabi SAW melihat kondisi seorang wanita yang mulanya adalah seorang sayyidah merdeka yang mana dia memohon beliau untuk mengentaskan ujian yang menimpa dirinya. Maka beliau bertanya pada Juwairiyah, “Maukah engkau mendapatkan yang lebih baik dari hal itu?” Maka dia menjawab dengan sopan, “Apakah itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku tebus dirimu kemudian aku nikahi dirimu!” Maka tersiratlah pada wajahnya yang cantik suatu kebahagiaan, sedangkan dia hampir-hampir tidak peduli dengan kemerdekaan dia karena remehnya, beliau menjawab, “Mau ya Rasulullah.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah melakukannya.”[1]

‘Aisyah Ummul Mukminin berkata, “Tersebarlah berita kepada manusia bahwa Rasulullah SAW telah menikahi Juwairiyah binti al-Harits bin Abi Dhirar. Maka orang-orang berkata, ‘Kerabat Rasulullah SAW! Maka mereka lepaskan tawanan perang yang mereka bawa, maka sungguh dengan pernikahan beliau SAW dengan Juwairiyah menjadi sebab dibebaskanya seratus keluarga dari Bani Mushthaliq. Maka aku tidak pernah mengetahui seorang wanita yang yang lebih berkah bagi kaumnya daripada Juwairiyah.”

Dan Ummul mukminin ‘Aisyah menceritakan perihal pribadi Juwairiyah, “Juwairiyah adalah seorang wanita yang manis dan cantik, tiada seorang pun yang melihatnya melainkan akan jatuh hati kepadanya. Tatkala Juwairiyah meminta kepada Rasulullah untuk membebaskan dirinya, sedangkan demi Allah aku telah melihatnya melalui pintu kamarku, maka aku merasa cemburu karena saya menduga bahwa Rasulullah SAW akan melihat sebagaimana yang aku lihat.”[2]

Maka masuklah pengantin wanita, Sayyidah Bani Mushthaliq ke dalam rumah tangga nubuwwah. Pada mulanya nama beliau adalah Burrah, namun Rasulullah SAW menggantinya dengan Juwairiyah, karena khawatir dia dikatakan keluar dari biji gandum.[3]

Ibnu Hajar menyebutkan di dalam aI-Ishabah tentang kuatnya keimanan Juwairiyah r.a.. Beliau berkata, “Ayah Juwairiyah mendatangi Rasul dan berkata, ‘Sesungguhnya anakku tidak berhak ditawan, karena terlalu mulia dari hal itu. Maka Nabi SAW bersabda,

‘Bagaimana pendapatmu seandainya anakmu disuruh memilih di antara kita, apakah anda setuju?’

‘Baiklah’, katanya. Kemudian ayahnya mendatangi Juwairiyah dan menyuruhnya untuk memilih antara dirinya dengan Rasulullah SAW. Maka beliau menjawab, “Aku memilih Allah dan Rasul-Nya’.”

lbnu Hisyam meriwayatkan bahwa akhirnya ayah beliau yang bernama al-Harits masuk Islam bersama kedua putranya dan beberapa orang dari kaumnya. Ummul Mukminin Juwairiyah wafat pada tahun 50 Hijriyah, ada pula yang mengatakan tahun 56 Hijriyah.[4]

Semoga Allah merahmati Ummul Mukminin Juwairiyah, karena pernikahannya dengan Rasulullah SAW membawa barakah dan kebaikan yang menyebabkan kaumnya, keluarganya dan orang-orang yang dicintainya berpindah dari memalingkan ibadah untuk selain Allah dan kesyirikan, menuju kebebasan dan cahaya Islam beserta kewibawaannya. Hal itu merupakan pelajaran bagi mereka yang bertanya-tanya tentang hikmah Rasulullah SAW beristri lebih dari satu. [WARDAN/DR]

Sumber: Mereka adalah Para Sahabiyat

Footnote:

[1] As-Sirah Ibnu Hisyam (ll/294) dan al-Ishabah (Vlll/43) dan aI-lstii’ab (IV/1804).

[2] As-Sirah lbnu Hisyam (II/293) dan aI-Ishabah (Vlll/43) dan aI-Istii’ab (IV/1804). Hal ini telah disebutkan pula oleh as-Suhaili dalam penjelasannya terhadap As-Sirah beliau berkata, “Adapun pandangan Nabi SAW kepada Juwairiyah sehingga beliau melihat kecantikannya, hal itu karena Juwairiyah adalah seorang budak, seandainya dia wanita merdeka, maka beliau tidak akan melihat kecantikannya… lagipula diperbolehkan melihat wanita manakala bermaksud untuk menikahinya. Telah disebutkan bahwa ‘Alaihish Shalatu Wassallam memberi rukhsah untuk memandang wanita manakala bermaksud untuk menikahinya.

[3] Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Ibnu Abbas no.2140 dan Ahmad dalam al-Musnad (VI/429).

[4] Ath-Thabaqat lbnu Sa’ad (Vlll/120).

Shafiyyah binti Huyai – Wanita Cendikia dari Bani Nadhir

Beliau adalah Shafiyyah binti Huyai binti Akhthab bin Sa’yah cucu dari al-Lawi bin Nabiyullah Israil bin Ishaq bin lbrahim a.s., termasuk keturunan Rasulullah Harun a.s.. Shafiyyah adalah seorang wanita yang mulia dan cerdas. Memiliki kedudukan yang terpandang, berparas cantik, dan bagus diennya. Sebelum Islamnya beliau menikah dengan Salam bin Abi al-Haqiq, kemudian setelah itu dia menikah dengan Kinanah bin Abi al-Haqiq. Keduanya adalah penyair Yahudi. Kinanah terbunuh pada waktu perang Khaibar, maka beliau termasuk wanita yang ditawan bersama wanita-wanita yang lain. Bilal “Muadzin Rasulullah” menggiring Shafiyyah dan putri pamannya. Mereka melewati tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi. Shafiyah diam, tenang, tidak kelihatan sedih, dan tidak pula meratap sebagaimana yang dilakukan oleh putri pamannya yang mencakar mukanya, menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya.

Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah SAW, Shafiyah dalam keadaan sedih namun tetap diam, sedangkan putri pamannya kepalanya penuh pasir, merobek bajunya karena merasa belum cukup ratapannya. Maka Rasulullah SAW bersabda -sedangkan tersirat rasa tidak suka pada wajah beliau:

“Enyahkanlah setan ini dariku.”[1]

Kemudian beliau SAW mendekati Shafiyyah kemudian mengarahkan pandangan atasnya dengan ramah dan lembut, kemudian bersabda kepada Bilal:

“Wahai Bilal aku berharap engkau mendapat rahmat tatkala engkau bertemu dengan dua orang wanita yang suaminya terbunuh.”[2]

Selanjutnya Shafiyyah dipilih untuk beliau dan beliau mengulurkan selendang beliau kepada Shafiyah, hal itu sebagai pertanda bahwa Rasulullah SAW telah memilihnya untuk dirinya. Hanya kaum muslimin tidak mengetahui apakah Shafiyyah diambil oleh Rasulullah sebagai istri atau sebagai budak ataukah sebagai anak? Maka tatkala beliau menghijabi Shafiyyah, maka barulah mereka tahu bahwa Rasulullah SAW mengambilnya sebagai istri. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas r.a., bahwa Rasulullah SAW tatkala mengambil Shafiyyah binti Huyyai beliau bertanya kepadanya, “Maukah engkau menjadi istriku?” Maka Shafiyyah menjawab, “Ya Rasulullah sungguh aku telah berangan-angan untuk itu tatkala masih musyrik, maka bagaimana mungkin aku tidak inginkan hal itu manakala Allah memungkinkan itu saat aku memeluk Islam?”

Kisah ShafiyyahKemudian tatkala Shafiyyah telah suci Rasulullah SAW menikahinya,[3] sedangkan maharnya adalah merdekanya Shafiyyah. Nabi SAW menanti sampai Khaibar kembali tenang. Setelah beliau perkirakan rasa takut telah hilang pada diri Shafiyyah, beliau mengajaknya pergi Shafiyah yang beliau bawa di belakang beliau, kemudian beranjak menuju sebuah rumah yang berjarak enam mil dari Khaibar. Nabi SAW menginginkan diri Shafiyyah ketika itu, namun dia menolaknya. Ada rasa kecewa pada diri Nabi, karena penolakan tersebut.

Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan perjalanannya menuju Madinah bersama bala tentaranya, tatkala mereka sampai di Shahba’ jauh dari Khaibar mereka berhenti untuk beristirahat. Pada saat itulah timbul keinginan untuk merayakan walimatul ‘urs. Maka didatangkanlah Ummu Anas bin Malik r.a., beliau menyisir rambut Shafiyah, menghiasi dan memberi wewangian hingga karena kelihaian dia dalam merias, Ummu Sinan al-Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan cantik dari Shafiyyah.[4] Diadakanlah walimatul ‘urs, maka kaum muslimin memakan lezatnya kurma, mentega, dan keju Khaibar hingga kenyang.

Rasulullah SAW masuk ke kamar Shafiyyah sedangkan masih terbayang pada beliau penolakan Shafiyyah tatkala ajakan beliau yang pertama, maka Shafiyyah menerima Nabi untuk menjalani malam pertama dengan lembut beliau menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan. Beliau bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi’, pada malam itu beliau bermimpi bahwa bulan telah jatuh di kamarnya. Tatkala bangun beliau ceritakan hal itu kepada Kinanah, maka dia berkata dengan marah, “Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu telah berangan-angan mendapatkan Raja Hijaz Muhammad.”[5] Maka dia tampar wajah beliau dengan keras sehingga bekasnya masih ada, Nabi SAW mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya, “Mengapa engkau menolak diriku tatkala kita menginap yang pertama?” Maka beliau menjawab, “Saya khawatir terhadap diri Anda karena dekat dengan Yahudi.”[6] Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hatinya maka Nabi melewati malam pertamanya tatkala Shafiyyah berumur 17 tahun.[7]

Tatkala rombongan sampai di Madinah Rasulullah perintahkan agar pengantin wanita tidak langsung dipertemukan dengan istri-istri beliau yang lain. Beliau turunkan Shafiyyah di rumah sahabatnya yang bernama Haritsah bin Nu’man. Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabar tersebut, mereka datang untuk melihat kecantikannya. Nabi SAW memergoki ‘Aisyah keluar sambil menutupi dirinya serta berhati-hati (agar tidak dilihat Nabi) kemudian beliau masuk ke rumah Haritsah bin Nu’man. Maka beliau menunggunya sampai ‘Aisyah keluar. Maka tatkala beliau keluar, Rasulullah memegang bajunya seraya bertanya dengan tertawa, “Bagaimana menurut pendapatmu wahai (mawar) yang kemerah-merahan?” ‘Aisyah menjawab sementara cemburu menghiasi dirinya, “Aku lihat dia adalah wanita Yahudi.” Maka, Rasulullah SAW membantahnya dan bersabda:

Jangan berkata begitu… karena sesungguhnya dia telah Islam dan bagus keislamannya.”[8]

Selanjutnya, Shafiyyah berpindah ke rumah Nabi menimbulkan kecemburuan istri-istri beliau yang lain karena kecantikannya. Mereka juga tidak mengucapkan selamat atas apa yang telah beliau raih. Bahkan dengan nada mengejek, mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy, wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing.

Bahkan suatu ketika sampai keluar dari lisan Hafshah kata-kata, “Anak seorang Yahudi” hingga menyebabkan beliau menangis. Tatkala itu Nabi masuk sedangkan Shafiyyah masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Hafshah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah anak seorang Yahudi.” Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya engkau adalah putri seorang Nabi dan pamanmu adalah seorang Nabi, suamipun juga seorang Nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?” Kemudian beliau bersabda kepada Hafshah, “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah?”[9]

Maka kata-kata Nabi ini menjadi penyejuk, keselamatan dan keamanan bagi Shafiyyah. Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain maka dia pun berkata, “Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun dan pamanku adalah Musa?[10]

Shafiyyah r.a. wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu’awiyah. Beliau dikuburkan di Baqi’ bersama Ummahatul Mukminin. Semoga Allah meridhai mereka semua. [WARDAN/DR]

Sumber: Mereka adalah Para Sahabiyat

Footnote:

[1] As-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam (IIl/350) dan aI-Ishabah (Vlll/126) dan Tarikh ath-Thabari (III/94).

[2] As-Sirah (Ill/351) dan aI-Ishabah (Vlll/126) dan Thabaqat Ibnu Sa’ad (II/81).

[3] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari hadits Anas dalam aI-Maghazi, bab: Perang Khaibar dan dalam an-Nikah, bab: Memerdekakan budak wanita sebagai mahar (Vl/121). Dan Muslim dalam an-Nikah, bab: Keutamaan memerdekakan budak wanita kemudian menikahinya, (no. 1360). Lihat pula dalam aI-Isti’ab (IV/ 1872), dan aI-lshabah (VIII/162) serta Thabaqat Ibnu Sa’ad (ll/84).

[4] AI-lshabah (VlII/126).

[5] As-Sirah an-Nabawiyah Ibnu Hisyam (III/350) dan Tarikh ath-Thabari (III/94) dan aI-lshabah bahwa beliau menceritakan mimpinya kepada ibunya.

[6] Al-lshabah (Vlll/126).

[7] Ath-Thabaqat Ibnu Sa’ad (Vlll/ 129) dan aI-Mustadrak (lV/29).

[8] Ath-Thabaqat lbnu Sa’ad (VIll/125).

[9] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari jalan Abdur Razaq dari Ma’mar dari Tsabit dari Anas, no. 3894. Begitu pula oleh Ahmad dalam al-Musnad (Ill/135) sanadnya shahih.

[10] AI-Ishabah (VIII/127) dan aI-lstii’ab (IV/1872).

6 Keunggulan Santri

Intip kegiatan santri al harokah darunnajah 12 pada hari santri

Pelaksanaan Kasyful Mu’jam Santriwati Akhir Darunnajah 9

Kasyful Mu’jam adalah salah satu kegiatan untuk menunjang bahasa santriwati di pondok pesantren.

Kegiatan ini berlangsung selama 4 hari setiap malamnya. Diawali oleh pengarahan dan pembekalan oleh Al-ust. Nur Ali Saputra,S.Th.I pada hari pertama.

Kasyfu berasal dari bahasa arab yang berarti membuka, Mu’jam secara istilah berarti kitab atau buku yang menampung sekian banyak kosa kata bahasa yang tersusun secara khusus sesuai dan sistematis. Dalam kegiatan ini kamus yang dipakai adalah kamus “Munjid”.

Di kegiatan ini, mereka diberi beberapa kosakata bahasa arab sulit dan asing. Dan mencari pengertiannya atau arti tepatnya di kamus “Munjid”. Tetapi, mencari kata di kamus munjid tidak semudah yang dibayangkan. Mereka harus tahu asal kata dari kosakata yang diberikan. Baru, mereka dapat mencari kata tersebut. Dan kegiatan ini menjadi sulit karena banyak kosakata yang hampir mirip dan semuanya berbahasa Arab. Cukup membuat kepala para santriwati pusing karena banyaknya kosa kata berbahasa arab di kamus beratus- ratus halaman tersebut.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur kemampuan bahasa Arab santriwati kelas 6 TMI. Dan pemahaman terhadap pelajaran shorof sangat memudahkan dan membantu para santriwati untuk menemukan arti yang tepat dari kosa kata bahasa arab yang diberikan.

(Adm DN9)Raihanah

Darunnajah dan Gontor Menjalin Ukhuwah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pada kesempatan kali ini dalam artikel ini saya akan menyampaikan kutipan dari buku karangan dr KH Sofwan Manaf yang berjudul ” Tak Lelah Menjaga Amanah” tentang bagaimana terjadinya Ukhuwah Pondok Pesantren Darunnajah dan Pondok Modern Gontor. Silaturrahmanmi dan ukhuwwah yang terjalin antara Gontor dan Darunnajah tak lekang di makan zaman silaturahim yang sudah terbangun sejak tahun 1959.

Tidak hanya dipertahankan tapi juga dipupuk dan pelihara sehingga membuahkan berbagai manfaat bagi kedua belah pihak maupun bagi ummat islam secara umum. keikhlasan,kesederhanaan dan berdikari benar–benar mereka contohkan dan tak kalah beratnya ialah panca jiwa ke empat , yakni ukhuwwah islamiyyah jiwa inilah yang seperti kosong dan sulit di temukan di kalangan ummat islam Indonesia khususnya.

Begitu mudahnya umat ini terpecah belah dan begitu gampangnya para pemimpin ummat untuk berbeda pendapat dan saling menyalahkan. Begitupun dengan lembaga–lembaga pendidikan islam  semuanya sibuk dengan lembaganya sendiri,dan ketika sudah maju tidak peduli dengan lembaga pendididkan islam lainnya. Pendek kata , ukhuwwah islamiyah adalah sesuatu yang mudah di ucapkan tapi sulit dilaksanakan. sejumlah nama yang duduk di dewan nazir adalah mereka yang besentuhan langsung dengan trimurti gontor.

  1. K.H. Hadiyin Rifa’i : mantan ketua badan wakaf Gontor

2. K.H drs. Hafizh Dasuki, MA :anggota badan wakaf gontor.

3. K.H. Abdullah Mahmud : orang kepercayaan K.H. Imam Zarkasyi di bidang administrasi dan pembangunan ,serta

anggota badan wakaf Gontor.

Oleh karena itu, dewan dan sebagian dewan nazir yang telah dipanggil dengan sang ilahi yaitu : drs. H. Kamaruzzaman, K.H. Nazir merasa perlu untuk mengisi kekosongan dewan nazir.  Setelah melaui rapat yang  alot, akhirnya diputuskan lah 3 nama sebagai pengganti mereka yang tidak lagi dapat melanjutkan tugas sebagai anggota dewan nazir. Mereka adalah:

  1. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A

2. drs. H. Azhari Baedlowi

3. drs. H. Mad Rodja Sukarta

Sebagai anggota dewan nazir darunnajah tentunya memberikan makna tertentu baik bagi darunnajah maupun gontor. beliau berkenan untuk duduk dan meluangkan waktunya sebagai anggota dewan nazir karena kesadarannya akan pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah. inilah bukti bahwa manisnya ukhuwwah islamiyyah antara gontor dan darunnajah.

Semoga bermanfaat. (dn13/ghofur)

Upacara Peringatan Hari Santri Nasional

Hari Santri Nasional

Santri adalah Seseorang yang sedang menuntut ilmu yang terdapat dan hidup di dalam pondok pesantren,tujuan nya hidup di pondok peasantren ialah menuntut ilmu,baik ilmu agama maupun ilmu dunia.Selain menuntut ilmu dalam bidang studi,mereka juga diajarkan mengetahui apa itu makna dari kemandirian dan kedisiplinan dengan mengaplikasikan nya setiap hari di pondok pesantren.

Hari ini tepat pada tanggal 22 oktober 2018,yaitu peringatan Hari Santri Nasional.Dimana seluruh santri di Indonesia merayakan hari santri dengan berbagai macam cara,seperti mengadakan berbagai macam perlombaan yang meriah untuk meriahkan Hari Santri Nasional,ada juga yang dengan mendengarkan khutbah mengenai hari santri,dan berbagai macam cara lainnya yang dapat membuat hari santri ini menjadi lebih bermakna.

Momentum Hari Santri Nasional ini diharapkan menjadi dasar kepada santri untuk berbenah dan meningkatkan kualitas diri seorang  santri agar lebih baik lagi.(Nov)

Selamat Hari Santri Nasional !!! Yuk Nyantri

Serunya yak menjadi santri, Nyantri yuk !!!

Di Pesantren Tsurayya Darunnajah 4 sudah membuka penerimaan murid baru, mulai dari 11 Oktober 2018, langsung saja yuk daftar untuk menjadi santri di Pesantren Tsurayya Darunnajah 4. (DN4/SipaNP)

Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8 Menangkan Berbagai Macam Lomba di Hari Santri Nasional

Upacara Pembukaan Kursus Mahir Dasar (KMD) ke XXXII Pondok Pesantren Darunnajah Pusat dan Cabang