Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Oktober 2018

Shafiyyah binti Huyai – Wanita Cendikia dari Bani Nadhir

Beliau adalah Shafiyyah binti Huyai binti Akhthab bin Sa’yah cucu dari al-Lawi bin Nabiyullah Israil bin Ishaq bin lbrahim a.s., termasuk keturunan Rasulullah Harun a.s.. Shafiyyah adalah seorang wanita yang mulia dan cerdas. Memiliki kedudukan yang terpandang, berparas cantik, dan bagus diennya. Sebelum Islamnya beliau menikah dengan Salam bin Abi al-Haqiq, kemudian setelah itu dia menikah dengan Kinanah bin Abi al-Haqiq. Keduanya adalah penyair Yahudi. Kinanah terbunuh pada waktu perang Khaibar, maka beliau termasuk wanita yang ditawan bersama wanita-wanita yang lain. Bilal “Muadzin Rasulullah” menggiring Shafiyyah dan putri pamannya. Mereka melewati tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi. Shafiyah diam, tenang, tidak kelihatan sedih, dan tidak pula meratap sebagaimana yang dilakukan oleh putri pamannya yang mencakar mukanya, menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya.

Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah SAW, Shafiyah dalam keadaan sedih namun tetap diam, sedangkan putri pamannya kepalanya penuh pasir, merobek bajunya karena merasa belum cukup ratapannya. Maka Rasulullah SAW bersabda -sedangkan tersirat rasa tidak suka pada wajah beliau:

“Enyahkanlah setan ini dariku.”[1]

Kemudian beliau SAW mendekati Shafiyyah kemudian mengarahkan pandangan atasnya dengan ramah dan lembut, kemudian bersabda kepada Bilal:

“Wahai Bilal aku berharap engkau mendapat rahmat tatkala engkau bertemu dengan dua orang wanita yang suaminya terbunuh.”[2]

Selanjutnya Shafiyyah dipilih untuk beliau dan beliau mengulurkan selendang beliau kepada Shafiyah, hal itu sebagai pertanda bahwa Rasulullah SAW telah memilihnya untuk dirinya. Hanya kaum muslimin tidak mengetahui apakah Shafiyyah diambil oleh Rasulullah sebagai istri atau sebagai budak ataukah sebagai anak? Maka tatkala beliau menghijabi Shafiyyah, maka barulah mereka tahu bahwa Rasulullah SAW mengambilnya sebagai istri. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas r.a., bahwa Rasulullah SAW tatkala mengambil Shafiyyah binti Huyyai beliau bertanya kepadanya, “Maukah engkau menjadi istriku?” Maka Shafiyyah menjawab, “Ya Rasulullah sungguh aku telah berangan-angan untuk itu tatkala masih musyrik, maka bagaimana mungkin aku tidak inginkan hal itu manakala Allah memungkinkan itu saat aku memeluk Islam?”

Kisah ShafiyyahKemudian tatkala Shafiyyah telah suci Rasulullah SAW menikahinya,[3] sedangkan maharnya adalah merdekanya Shafiyyah. Nabi SAW menanti sampai Khaibar kembali tenang. Setelah beliau perkirakan rasa takut telah hilang pada diri Shafiyyah, beliau mengajaknya pergi Shafiyah yang beliau bawa di belakang beliau, kemudian beranjak menuju sebuah rumah yang berjarak enam mil dari Khaibar. Nabi SAW menginginkan diri Shafiyyah ketika itu, namun dia menolaknya. Ada rasa kecewa pada diri Nabi, karena penolakan tersebut.

Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan perjalanannya menuju Madinah bersama bala tentaranya, tatkala mereka sampai di Shahba’ jauh dari Khaibar mereka berhenti untuk beristirahat. Pada saat itulah timbul keinginan untuk merayakan walimatul ‘urs. Maka didatangkanlah Ummu Anas bin Malik r.a., beliau menyisir rambut Shafiyah, menghiasi dan memberi wewangian hingga karena kelihaian dia dalam merias, Ummu Sinan al-Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan cantik dari Shafiyyah.[4] Diadakanlah walimatul ‘urs, maka kaum muslimin memakan lezatnya kurma, mentega, dan keju Khaibar hingga kenyang.

Rasulullah SAW masuk ke kamar Shafiyyah sedangkan masih terbayang pada beliau penolakan Shafiyyah tatkala ajakan beliau yang pertama, maka Shafiyyah menerima Nabi untuk menjalani malam pertama dengan lembut beliau menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan. Beliau bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi’, pada malam itu beliau bermimpi bahwa bulan telah jatuh di kamarnya. Tatkala bangun beliau ceritakan hal itu kepada Kinanah, maka dia berkata dengan marah, “Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu telah berangan-angan mendapatkan Raja Hijaz Muhammad.”[5] Maka dia tampar wajah beliau dengan keras sehingga bekasnya masih ada, Nabi SAW mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya, “Mengapa engkau menolak diriku tatkala kita menginap yang pertama?” Maka beliau menjawab, “Saya khawatir terhadap diri Anda karena dekat dengan Yahudi.”[6] Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hatinya maka Nabi melewati malam pertamanya tatkala Shafiyyah berumur 17 tahun.[7]

Tatkala rombongan sampai di Madinah Rasulullah perintahkan agar pengantin wanita tidak langsung dipertemukan dengan istri-istri beliau yang lain. Beliau turunkan Shafiyyah di rumah sahabatnya yang bernama Haritsah bin Nu’man. Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabar tersebut, mereka datang untuk melihat kecantikannya. Nabi SAW memergoki ‘Aisyah keluar sambil menutupi dirinya serta berhati-hati (agar tidak dilihat Nabi) kemudian beliau masuk ke rumah Haritsah bin Nu’man. Maka beliau menunggunya sampai ‘Aisyah keluar. Maka tatkala beliau keluar, Rasulullah memegang bajunya seraya bertanya dengan tertawa, “Bagaimana menurut pendapatmu wahai (mawar) yang kemerah-merahan?” ‘Aisyah menjawab sementara cemburu menghiasi dirinya, “Aku lihat dia adalah wanita Yahudi.” Maka, Rasulullah SAW membantahnya dan bersabda:

Jangan berkata begitu… karena sesungguhnya dia telah Islam dan bagus keislamannya.”[8]

Selanjutnya, Shafiyyah berpindah ke rumah Nabi menimbulkan kecemburuan istri-istri beliau yang lain karena kecantikannya. Mereka juga tidak mengucapkan selamat atas apa yang telah beliau raih. Bahkan dengan nada mengejek, mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy, wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing.

Bahkan suatu ketika sampai keluar dari lisan Hafshah kata-kata, “Anak seorang Yahudi” hingga menyebabkan beliau menangis. Tatkala itu Nabi masuk sedangkan Shafiyyah masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Hafshah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah anak seorang Yahudi.” Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya engkau adalah putri seorang Nabi dan pamanmu adalah seorang Nabi, suamipun juga seorang Nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?” Kemudian beliau bersabda kepada Hafshah, “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah?”[9]

Maka kata-kata Nabi ini menjadi penyejuk, keselamatan dan keamanan bagi Shafiyyah. Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain maka dia pun berkata, “Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun dan pamanku adalah Musa?[10]

Shafiyyah r.a. wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu’awiyah. Beliau dikuburkan di Baqi’ bersama Ummahatul Mukminin. Semoga Allah meridhai mereka semua. [WARDAN/DR]

Sumber: Mereka adalah Para Sahabiyat

Footnote:

[1] As-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam (IIl/350) dan aI-Ishabah (Vlll/126) dan Tarikh ath-Thabari (III/94).

[2] As-Sirah (Ill/351) dan aI-Ishabah (Vlll/126) dan Thabaqat Ibnu Sa’ad (II/81).

[3] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari hadits Anas dalam aI-Maghazi, bab: Perang Khaibar dan dalam an-Nikah, bab: Memerdekakan budak wanita sebagai mahar (Vl/121). Dan Muslim dalam an-Nikah, bab: Keutamaan memerdekakan budak wanita kemudian menikahinya, (no. 1360). Lihat pula dalam aI-Isti’ab (IV/ 1872), dan aI-lshabah (VIII/162) serta Thabaqat Ibnu Sa’ad (ll/84).

[4] AI-lshabah (VlII/126).

[5] As-Sirah an-Nabawiyah Ibnu Hisyam (III/350) dan Tarikh ath-Thabari (III/94) dan aI-lshabah bahwa beliau menceritakan mimpinya kepada ibunya.

[6] Al-lshabah (Vlll/126).

[7] Ath-Thabaqat Ibnu Sa’ad (Vlll/ 129) dan aI-Mustadrak (lV/29).

[8] Ath-Thabaqat lbnu Sa’ad (VIll/125).

[9] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari jalan Abdur Razaq dari Ma’mar dari Tsabit dari Anas, no. 3894. Begitu pula oleh Ahmad dalam al-Musnad (Ill/135) sanadnya shahih.

[10] AI-Ishabah (VIII/127) dan aI-lstii’ab (IV/1872).

Sabtu, 20 Oktober 2018

Saudah binti Zam’ah – Muhajirah Istri Seorang Muhajir

Beliau adalah Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abud al-Qursyiyah al-Amiriyyah. Ibunya bernama asy-Syamus binti Qais bin Zaid bin Amru dari Bani Najjar. Beliau juga seorang sayyidah yang mulia dan terhormat. Sebelumnya pernah menikah dengan as-Sakar bin Amru, saudara dari Suhail bin Amru al-Amiri. Suatu ketika beliau bersama delapan orang dari Bani Amir hijrah meninggalkan kampung halaman dan hartanya, kemudian menyeberangi dahsyatnya lautan karena ridha menghadapi maut dalam rangka memenangkan diennya. Semakin bertambah siksaan dan intimidasi yang dialami, karena mereka menolak kesesatan dan kesyirikan. Hampir-hampir tiada hentinya ujian menimpa Saudah belum usai ujian tinggal di negeri asing (Habsyah), beliau harus kehilangan suami beliau sang muhajir. Maka beliau pun menghadapi ujian menjadi seorang janda di samping juga ujian di negeri asing.

Kisah SaudahRasulullah SAW menaruh perhatian yang istimewa terhadap wanita muhajirah yang beriman dan telah menjanda tersebut. Oleh karena itu, tiada henti-hentinya Khaulah binti Hakim as-Salimah menawarkan Saudah untuk beliau, hingga pada gilirannya beliau mengulurkan tangannya yang penuh rahmat untuk Saudah dan beliau mendampinginya dan membantunya menghadapi kerasnya kehidupan. Apalagi umurnya telah mendekati usia senja, sehingga membutuhkan seseorang yang dapat menjaga dan mendampinginya.

Telah tercatat dalam sejarah, bahwa tak seorang pun sahabat yang berani mengajukan masukan kepada Rasulullah SAW tentang pernikahan beliau setelah wafatnya Ummul Mukminin ath-Thahirah yang telah mengimani beliau di saat manusia mengkufurinya, menyerahkan seluruh hartanya di saat orang lain menahan bantuan terhadapnya, dan bersamanya pula Allah mengaruniakan kepada Rasul putra-putri.

Akan tetapi, hampir-hampir kesusahan menjadi berkepanjangan hingga Khaulah binti Hakim memberanikan diri mengusulkan kepada Rasulullah dengan cara yang lembut dan ramah:

Khaulah : Tidakkah Anda ingin menikah ya Rasulullah ?

Nabi : (Beliau menjawab dengan suara yang menandakan kesedihan) dengan siapa saya akan menikah setelah dengan Khadijah ?

Khaulah : Jika Anda ingin bisa dengan seorang gadis dan bisa pula dengan seorang janda.

Nabi : Jika dengan seorang gadis, siapakah gadis tersebut ?

Khaulah : Putri dari orang yang paling Anda cintai yakni Aisyah binti Abu Bakar.

Nabi : (setelah beliau SAW diam untuk beberapa saat kemudian bertanya) Jika dengan seorang janda?

Khaulah : Dia adalah Saudah binti Zam’ah, seorang wanita yang telah beriman kepada Anda dan mengikuti apa yang Anda bawa.

Beliau menginginkan Aisyah akan tetapi terlebih dahulu beliau nikahi Saudah binti Zam’ah yang mana dia menjadi satu-satunya istri beliau (setelah wafatnya Khadijah) selama tiga tahun atau lebih baru kemudian masuklah Aisyah dalam rumah tangga Rasulullah SAW. Orang-orang di Makkah merasa heran terhadap pernikahan Nabi dengan Saudah binti Zam’ah. Mereka bertanya-tanya seolah-olah tidak percaya dengan kejadian tersebut, seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak begitu cantik menggantikan posisi sayyidah wanita Quraisy dan hal itu menarik perhatian bagi para pembesar-pembesar di antara mereka.

Akan tetapi, kenyataan membuktikan bahwa sesungguhnya Saudah atau yang lain tidak dapat menggantikan posisi Khadijah, akan tetapi hal itu adalah, kasih sayang, dan penghibur hati adalah menjadi rahmat bagi beliau SAW yang penuh kasih.

Adapun Saudah r.a. mampu untuk menunaikan kewajiban dalam rumah tangga Nubuwwah, dan melayani putri-putri Nabi SAW, dan mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan di hati Nabi SAW dengan ringannya ruhnya dan sifat periangnya dan ketidaksukaannya terhadap beratnya badan.

Setelah tiga tahun rumah tangga tersebut berjalan, maka masuklah Aisyah dalam rumah tangga nubuwwah, disusul kemudian istri-istri yang lain seperti Hafsah, Zainab, Ummu Salamah dan lain-lain. Saudah r.a. menyadari bahwa Nabi saw tidak mengawini dirinya melainkan karena kasihan melihat kondisinya setelah kepergian suaminya yang lama. Dan bagi beliau hal itu telah jelas dan nyata tatkala Nabi SAW ingin menceraikan beliau dengan cara yang baik untuk memberi kebebasan kepadanya, namun Nabi merasa bahwa hal itu akan menyakiti hatinya. Tatkala Nabi mengutarakan keinginannya untuk menceraikan beliau, maka beliau merasa seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang menyesakkan dadanya, maka beliau merengek dengan merendahkan diri berkata, “Pertahankanlah aku ya Rasulullah ! Demi Allah, tiadalah keinginanku diperistri itu karena ketamakan saya akan tetapi saya berharap agar Allah membangkitkan aku pada hari kiamat dalam keadaan menjadi istrimu.[1]

Begitulah Saidah r.a. lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia, maka beliau berikan giliran beliau kepada Aisyah untuk menjaga hati Rasulullah SAW dan beliau r.a. sudah tidak memiliki keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.[2]

Maka Rasulullah menerima usulan istrinya yang memiliki perasaan yang halus tersebut, maka turunlah ayat Allah:

“Maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. an-Nisa’: 128).

Saudah r.a. tinggal di rumah tangga Nubuwwah dengan penuh keridhaan, ketenangan, dan bersyukur kepada Allah yang telah menempatkan posisinya di samping sebaik-baik makhluk di dunia. Dia bersyukur kepada Allah karena mendapat gelar Ummul Mukminin dan menjadi istri Rasul di surga. Akhirnya wafatlah Saudah r.a. pada akhir pemerintahan Umar bin Khattab r.a.[3]

Ummul Mukminin Aisyah r.a. senantiasa mengenang dan mengingat perilaku beliau dan terkesan akan keindahan kesetiaannya. Aisyah berkata, “Tiada seorang wanita pun yang paling aku sukai agar aku memiliki sifat seperti dia[4] melebihi Saudah binti Zam’ah tatkala berusia senja yang mana dia berkata, “Ya Rasulullah aku hadiahkan kunjungan Anda kepadaku untuk Aisyah,” hanya saja beliau berwatak keras.[5] [WARDAN/DR]

Sumber: Mereka adalah Para Sahabiyat – Kisah-kisah Wanita Menakjubkan yang belum pernah Tertandingi Hingga Hari Ini.

Footnote:

[1] AI-Ishabah (Vlll/117). Al-Istii’ab (IV/1867). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam ar-Radha’ pada bab: Diperbolehkan menghadiahkan gilirannya kepada madunya (no. 1463).

[2] Dikeluarkan oleh aI-Bukhari kitab Nikah, bab: Seorang wanita menghadiahkan hari giliran suaminya kepada madunya (VI/ 154). Dan diriwayatkan oleh Muslim yang serupa dengan hadits tersebut.

[3] AI-Ishabah (VIII/117) dan aI-Istii’aab (IV/1867).

[4] Maksudnya adalah beiiau menginginkan agar menyamai petunjuknya dan pola hidupnya selain yang disebut di akhir kalimat.

[5] Dikeluarkan oleh Muslim dalam ar-Radha’ pada bab: Diperbolehkan menghadiahkan gilirannya kepada madunya, (no. 1463).