Tampilkan postingan dengan label October 20. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label October 20. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Oktober 2018

Saudah binti Zam’ah – Muhajirah Istri Seorang Muhajir

Beliau adalah Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abud al-Qursyiyah al-Amiriyyah. Ibunya bernama asy-Syamus binti Qais bin Zaid bin Amru dari Bani Najjar. Beliau juga seorang sayyidah yang mulia dan terhormat. Sebelumnya pernah menikah dengan as-Sakar bin Amru, saudara dari Suhail bin Amru al-Amiri. Suatu ketika beliau bersama delapan orang dari Bani Amir hijrah meninggalkan kampung halaman dan hartanya, kemudian menyeberangi dahsyatnya lautan karena ridha menghadapi maut dalam rangka memenangkan diennya. Semakin bertambah siksaan dan intimidasi yang dialami, karena mereka menolak kesesatan dan kesyirikan. Hampir-hampir tiada hentinya ujian menimpa Saudah belum usai ujian tinggal di negeri asing (Habsyah), beliau harus kehilangan suami beliau sang muhajir. Maka beliau pun menghadapi ujian menjadi seorang janda di samping juga ujian di negeri asing.

Kisah SaudahRasulullah SAW menaruh perhatian yang istimewa terhadap wanita muhajirah yang beriman dan telah menjanda tersebut. Oleh karena itu, tiada henti-hentinya Khaulah binti Hakim as-Salimah menawarkan Saudah untuk beliau, hingga pada gilirannya beliau mengulurkan tangannya yang penuh rahmat untuk Saudah dan beliau mendampinginya dan membantunya menghadapi kerasnya kehidupan. Apalagi umurnya telah mendekati usia senja, sehingga membutuhkan seseorang yang dapat menjaga dan mendampinginya.

Telah tercatat dalam sejarah, bahwa tak seorang pun sahabat yang berani mengajukan masukan kepada Rasulullah SAW tentang pernikahan beliau setelah wafatnya Ummul Mukminin ath-Thahirah yang telah mengimani beliau di saat manusia mengkufurinya, menyerahkan seluruh hartanya di saat orang lain menahan bantuan terhadapnya, dan bersamanya pula Allah mengaruniakan kepada Rasul putra-putri.

Akan tetapi, hampir-hampir kesusahan menjadi berkepanjangan hingga Khaulah binti Hakim memberanikan diri mengusulkan kepada Rasulullah dengan cara yang lembut dan ramah:

Khaulah : Tidakkah Anda ingin menikah ya Rasulullah ?

Nabi : (Beliau menjawab dengan suara yang menandakan kesedihan) dengan siapa saya akan menikah setelah dengan Khadijah ?

Khaulah : Jika Anda ingin bisa dengan seorang gadis dan bisa pula dengan seorang janda.

Nabi : Jika dengan seorang gadis, siapakah gadis tersebut ?

Khaulah : Putri dari orang yang paling Anda cintai yakni Aisyah binti Abu Bakar.

Nabi : (setelah beliau SAW diam untuk beberapa saat kemudian bertanya) Jika dengan seorang janda?

Khaulah : Dia adalah Saudah binti Zam’ah, seorang wanita yang telah beriman kepada Anda dan mengikuti apa yang Anda bawa.

Beliau menginginkan Aisyah akan tetapi terlebih dahulu beliau nikahi Saudah binti Zam’ah yang mana dia menjadi satu-satunya istri beliau (setelah wafatnya Khadijah) selama tiga tahun atau lebih baru kemudian masuklah Aisyah dalam rumah tangga Rasulullah SAW. Orang-orang di Makkah merasa heran terhadap pernikahan Nabi dengan Saudah binti Zam’ah. Mereka bertanya-tanya seolah-olah tidak percaya dengan kejadian tersebut, seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak begitu cantik menggantikan posisi sayyidah wanita Quraisy dan hal itu menarik perhatian bagi para pembesar-pembesar di antara mereka.

Akan tetapi, kenyataan membuktikan bahwa sesungguhnya Saudah atau yang lain tidak dapat menggantikan posisi Khadijah, akan tetapi hal itu adalah, kasih sayang, dan penghibur hati adalah menjadi rahmat bagi beliau SAW yang penuh kasih.

Adapun Saudah r.a. mampu untuk menunaikan kewajiban dalam rumah tangga Nubuwwah, dan melayani putri-putri Nabi SAW, dan mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan di hati Nabi SAW dengan ringannya ruhnya dan sifat periangnya dan ketidaksukaannya terhadap beratnya badan.

Setelah tiga tahun rumah tangga tersebut berjalan, maka masuklah Aisyah dalam rumah tangga nubuwwah, disusul kemudian istri-istri yang lain seperti Hafsah, Zainab, Ummu Salamah dan lain-lain. Saudah r.a. menyadari bahwa Nabi saw tidak mengawini dirinya melainkan karena kasihan melihat kondisinya setelah kepergian suaminya yang lama. Dan bagi beliau hal itu telah jelas dan nyata tatkala Nabi SAW ingin menceraikan beliau dengan cara yang baik untuk memberi kebebasan kepadanya, namun Nabi merasa bahwa hal itu akan menyakiti hatinya. Tatkala Nabi mengutarakan keinginannya untuk menceraikan beliau, maka beliau merasa seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang menyesakkan dadanya, maka beliau merengek dengan merendahkan diri berkata, “Pertahankanlah aku ya Rasulullah ! Demi Allah, tiadalah keinginanku diperistri itu karena ketamakan saya akan tetapi saya berharap agar Allah membangkitkan aku pada hari kiamat dalam keadaan menjadi istrimu.[1]

Begitulah Saidah r.a. lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia, maka beliau berikan giliran beliau kepada Aisyah untuk menjaga hati Rasulullah SAW dan beliau r.a. sudah tidak memiliki keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.[2]

Maka Rasulullah menerima usulan istrinya yang memiliki perasaan yang halus tersebut, maka turunlah ayat Allah:

“Maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (QS. an-Nisa’: 128).

Saudah r.a. tinggal di rumah tangga Nubuwwah dengan penuh keridhaan, ketenangan, dan bersyukur kepada Allah yang telah menempatkan posisinya di samping sebaik-baik makhluk di dunia. Dia bersyukur kepada Allah karena mendapat gelar Ummul Mukminin dan menjadi istri Rasul di surga. Akhirnya wafatlah Saudah r.a. pada akhir pemerintahan Umar bin Khattab r.a.[3]

Ummul Mukminin Aisyah r.a. senantiasa mengenang dan mengingat perilaku beliau dan terkesan akan keindahan kesetiaannya. Aisyah berkata, “Tiada seorang wanita pun yang paling aku sukai agar aku memiliki sifat seperti dia[4] melebihi Saudah binti Zam’ah tatkala berusia senja yang mana dia berkata, “Ya Rasulullah aku hadiahkan kunjungan Anda kepadaku untuk Aisyah,” hanya saja beliau berwatak keras.[5] [WARDAN/DR]

Sumber: Mereka adalah Para Sahabiyat – Kisah-kisah Wanita Menakjubkan yang belum pernah Tertandingi Hingga Hari Ini.

Footnote:

[1] AI-Ishabah (Vlll/117). Al-Istii’ab (IV/1867). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam ar-Radha’ pada bab: Diperbolehkan menghadiahkan gilirannya kepada madunya (no. 1463).

[2] Dikeluarkan oleh aI-Bukhari kitab Nikah, bab: Seorang wanita menghadiahkan hari giliran suaminya kepada madunya (VI/ 154). Dan diriwayatkan oleh Muslim yang serupa dengan hadits tersebut.

[3] AI-Ishabah (VIII/117) dan aI-Istii’aab (IV/1867).

[4] Maksudnya adalah beiiau menginginkan agar menyamai petunjuknya dan pola hidupnya selain yang disebut di akhir kalimat.

[5] Dikeluarkan oleh Muslim dalam ar-Radha’ pada bab: Diperbolehkan menghadiahkan gilirannya kepada madunya, (no. 1463).

Bengetahui Apa Arti Sedekah

5 Langkah Agar Kita Semakin Semangat Sholat Berjamaah

Rihlah Iqtishodyah Siswi Akhir TMI

Rabiul Qulub Championsip 2018 Berlangsung Meriah !

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pada hari Sabtu tanggal 20 Oktober 2018 di Pondok Pesantren Tahfizh Al Qur’an Rabiul Qulub Darunnajah 13, sedang diadakan perlombaan antar club muhadhoroh. Sehingga tak kaget suasana pondok sontak ramai dengan sorak suara para santri yang sedang berlomba

Apa saja yang sedang dilombakan?

Sebanyak 25 macam perlombaan yang akan memperebutkan juara pertama kedua dan ketiga. Lomba-lomba tersebut adalah futsa,l badminton, fifa street, sepak bola, MHQ musabaqah hifzhil Quran, cerdas cermat, lomba masak, rubik dan masih banyak lomba-lomba yang lainnya

Untuk mendapatkan juara pertama kedua dan ketiga tidaklah mudah, sebanyak 37 Santri dibagi menjadi empat klub besar nama-nama klub tersebut adalah Pasukan Allah, Asadullah Laskar Jihad, Trans Club . Keempat klub tersebut harus bersaing berebut poin setiap perlombaan. Karena perlombaan ini dengan sistem poin klasemen yang lebih mirip seperti Asean Games di Jakarta beberapa waktu silam

Bagaimana memperebutkan juara pertama kedua dan ketiga?

 

Peserta harus berebut posisi 1 2 3 di tiap perlombaan posisi pertama mendapatkan 60 poin, posisi kedua mendapatkan 50 poin, posisi ketiga mendapatkan 40 poin poin poin tersebut akan dijumlahkan dan Club muhadhoroh yang mendapat poin terbanyak adalah klub yang berhak menjadi juara umum juara kedua juara ke 3 ataupun hanya sebatas juara harapan

Dari pihak panitia, yang diketuai oleh Ustadz Fakkar beserta dewan juri yang dipilih dari para asatidz lomba tersebut hanya berlangsung 2 hari saja pada waktu sore hari selepas setoran hafalan

Siapa saja pesertanya?

 

Dari 4 klub muhadhoroh tadi di atas dipilihlah seorang ketua regu ketua regu berhak membagi perlombaan kepada anggota club muhadhoroh masing-masing jadi pembagian  langsung dari ketua Club kepada anggota club sesuai dengan kemampuan masing-masing

Kenapa ada lomba?

 

Dari pihak panitia perlombaan menjelaskan bahwasannya tujuan dari diadakannya perlombaan tersebut adalah untuk mempererat silaturahmi santri Darunnajah 13 dengan santri Takhosus Darunnajah Jakarta selain daripada itu diadakan lomba tersebut adalah agar para santri bisa terhibur dan bisa lebih semangat lagi kedepannya dalam menjalani aktivitas aktivitas di pondok Yoga untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing Santri

Oleh karena itu meskipun lomba yang dilaksanakan hanya sebentar dan juga dengan hadiah tidak terlalu mewah Semoga dengan adanya perlombaan ini para santri bisa merefresh kembali semangatnya dan bisa lebih akrab lagi dengan teman barunya juga agar mereka berani tampil dan sebagian harus bisa membawa pulang nama juara bagi masing-masing klub muhadhoroh mereka

Semoga bermanfaat.(DN13/ghofur)

12 Adab rasulullah saw

Apa Pentingnya Akhlak Bagi Kita Kaum Muslimin ???

Akhlak secara harfiah berarti kelakuan, budi pekerti, atau tata susila, akhlak secara istilah berarti kekuatan rohaniah manusia yang membuahkan amal-amal secara sepontan. Etika adalah kebiasaan dari kata etos bahasa yunani dapat pula di sebut moral yang artinya kebiasaan. Orang Inggris menyebutnya character identik dengan kelakuan.
Akhlak atau moral dalam pengertian umum adalah system yang lengkap yang terdiri dari karakteristik akal atau tingkah laku yang membuat orang menjadi istimewa, berikut ada dalam Syair-syair Arab :

خيرالناس احسنهم خلقا وأنفعهم لناس

“Sebaik-baiknya seseorang adalah yang paling baik akhlaknya dan paling bermanfaat bagi orang lain.
Itu artinya, sebaik-baiknya seseorang adalah yang paling baik akhlaknya, semuanya itu dilihat dari akhlaknya, bukan dari ilmunya”.

Dan akhlak itu terbagi menjadi 2 yaitu, akhlak mahmudah dan akhlak mahmudzah ;

Apa Akhlak Mahmudah ?

Akhlak mahmudah atau akhlakul karimah artinya perbuatan terpuji. Seperti contohnya kita bersedekah kepada yang membutuhkan, taat kepada orangtua, baik terhadap teman, dan lain-lainnya.

Lalu Apa Akhlakul Mazmumah itu ?

Merupakan perbuatan atau perlakuan yang tercela yang tidak pantas dimiliki oleh kita sebagai umat muslim. Seperti halnya mencuri, berbohong, menghina, sombong, dan lain sebagainya yang termasuk ke dalam hal yang tidak terpuji.
Kita sebagai makhluk hamba Allah harus memiliki akhlak yang bagus dan baik, harus memiliki akhlak yang mulia, Karena akhlak adalah salah satu mahkota didalam diri kita.

Dimana saja kita harus menerapkan akhlak ?

Di Mesjid, ketika posisi sedang berada didalam mesjid, maka pastikan kita semua dalam keadaan suci, salah satu akhlak yang akn kita terapak ialah salah satunya, jangan membuat rusuh, kegundahan dalam mesjid, karena mesjid merupakan tempat ibadah, yakni tempat yang sangat mulia, maka dari itu kita harus mmiliki akhlak, etika ketika sedang di mesjid.
Di Kendaraan Umum, adalah kendaraan yang digunakan oleh siapapun dengan mengguanakan beajasa, kendaraan umum itu artinya terdapat banyak kalangan orang, maka dari itu karena di dalam kendaraan umum itu di dalam nya, tidak hanya kita sendiri tetapi banyak penumpang yang lainya pula, sebab itulah kita harus memiliki akhlak dan etika.
Setiap umat muslim harus memiliki akhlak, Terutama kepada santri kami yaitu santri Pondok Pesantren Tsurayya Darunnajah 4, pendidikan yang paling utama adalah akhlak, kami selalu mendidik santri-santri kami, agar selalu berakhlak dimanapun, dan kepada siapapun. (DN4.Andhika)

Sentra Seni TK Islam darunnajah: Membuat Gantungan Tas Lolipop Dari Clay

Apa sih Photography and Cinematography itu? Temukan Perbedannya Disini!

Workshop Photography and Cinematography Pers Darunnajah

Pengembaraan Tapak Suci Santri Darunnajah di Bandung

Panggung Gembira 626 Al-Muntashir Non Asrama Putri