Tampilkan postingan dengan label December 11. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label December 11. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2018

Inilah 7 Keutamaan dan Manfaat Membaca Doa Al Ma’tsurat

Al ma’tsurat merupakan doa yang berasal dari Nabi Muhammad SAW dengan sanad shahih. Ada berbagai manfaat dan keutamaan jika mengamalkannya setiap pagi dan sore hari. Lalu bagaimana hukum membaca Al Ma’tsurat dan apa sajakah keutamaan dan manfaatnya?

Berikut adalah keutamaan dan manfaat membaca doa al ma’tsurat:

1. Rumah terlindung dari gangguan setan

Berdasarkan hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Thabrani menerangkan bahwa barang siapa yang membaca 10 ayat dari surat Al-Baqarah di dalam rumahnya maka setan tidak akan mampu masuk kedalam rumah tersebut hingga keesokan harinya. Kesepuluh ayat itu adalah empat ayat pertama surat Al-baqarah, satu ayat kursi, dua ayat setelah ayat kursi, dan ditutup dengan tiga ayat terakhir surat al-baqarah.

2. Dicukupi segala kebutuhan di dunia

Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Turmudzi dijelaskan bahwa barang siapa yang membaca bacaan surat Al Ma’tsurat yaitu surat al-falaq dan an-nass dipagi dan sore hari sebanyak tiga kali maka Allah SWT akan mencukupkan segala kebutuhannya di dunia. Sehingga seseorang tidak akan merasa kekurangan selama hidup di dunia.

3. Disempurnakan nikmat

Berdasarkan hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Saunni telah dijelaskan bahwa barang siapa yang membaca ‘Allahumma inniasbahtu minka fi nikmati’ sebanyak tiga kali saat pagi dan sore hari maka Allah SWT akan menyempurnakan nikmat atas dirinya, sehingga seseorang akan mendapat banyak limpahan kenikmatan baik itu dari segi rohani maupun jasmani.

4. Sebagai tanda syukur kepada Allah SWT

Berdasarkan hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Abu Dawud telah diterangkan bahwa jika seorang muslim membaca ‘Allahumma ashbaha…’ pada sore hari maka sejatinya dia telah bersyukur untuk kehidupan malamnya.

5. Mendapat keridhaan dari Allah SWT

Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Turmudzi telah dijelaskan bahwa jika seorang muslim membaca ‘radhitubillahi rabba…’ di waktu sore hari dengan ikhlas maka Allah SWT akan memberikan keridhaan kepadanya atas semua pekerjaan yang dilakukannya. Inilah salah satu manfaat dan keutamaan dalam membaca doa Al Ma’tsurat.

6. Mendapat pahala lebih banyak

Berdasarkan hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Muslim telah diterangkan bahwa Rosulullah menemui Juwariyah yang berada dalam mushollanya. Beliau bertanya kepadanya mengapa dia berlama-lama berada di dalam musholla, padahal jika Juwariyyah membaca ‘Subhanallahu wabihandihi…’ sebanyak tiga kali maka pahalanya lebih berat dari apa yang telah dilakukan Juwariyah yaitu berlama-lama berada dalam musholla.

7. Terhindar dari segala bahaya yang dapat mengancam

Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Turmudzi telah diterangkan bahwa jika seorang muslim membaca ‘Bismillahilladzi laa yaadzurru…’ sebanyak tiga kali di waktu pagi dan sore hari maka Allah SWT akan menjaganya dari segala bahaya yang dapat datang kepadanya.

Alangkah beruntungnya bagi setiap muslim yang mampu mengamalkan doa al ma’tsurat yang berasal dari Rosulullah karena doa ini memberikan banyak manfaat dan memiliki banyak keutamaan bagi seorang muslim. Semoga dengan mengetahui hal ini dapat menjadi pendorong bagi setiap muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

(santritv/ihsan)

Menjadi Pribadi Seorang Muslim Yang Kuat Dan Taat

Manakah di antara sahabat Nabi Muhammad SAW yang tak pandai berperang? Carilah di antara mereka, mana yang tak bisa menunggang kuda, memanah, atau bermain pedang.

Secara umum, hampir seluruh sahabat Nabi SAW mempunyai keahlian tersebut. Memang merekalah orang yang sibuk beribadah, belajar Alquran, dan mengkaji hadis-hadis Nabi SAW. Namun di sisi lain, mereka adalah orang-orang kuat.

Sebut saja, sang panglima perang, Khalid bin Walid. Di samping menjadi seorang sahabat paling saleh, Khalid adalah seorang pejuang tak terkalahkan. Ia pernah memimpin 40 ribu pasukan kaum Muslimin yang mampu mengalahkan 240 ribu pasukan Romawi.

Keberanian sang panglima benar-benar membuat musuhnya gentar. Khalid bersama 200 orang pasukan berkuda, nekat menerobos 120 ribu pasukan Romawi. Ia membabat habis puluhan ribu pasukan Romawi. Khalid tak hanya saleh dan ahli ibadah, tetapi kuat dan berani dari segi fisik.

Inilah yang menjadikan para sahabat begitu mulia. Di samping mereka kuat dari segi keimanan, mereka juga kuat dalam hal duniawi. Inilah yang dipesankan Rasulullah SAW, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Nasa’i).

Bukannya Allah SWT tak mencintai mukmin yang lemah. Namun, ketika mukmin yang kuat disandingkan dengan mukmin yang lemah, tentulah mereka yang kuat mendapat kecintaan lebih dari Allah SWT. Kuat dalam artian bukan hanya kuat iman. Definisi kuat dalam hadis ini mencakup kekuatan fisik, finansial, ekonomi, politik, dan seterusnya.

Di samping kekuatan iman, para sahabat Nabi SAW mempunyai kekuatan fisik yang tak diragukan lagi. Kekuatan fisik mereka teruji dengan kemenangan-kemenangan yang mereka raih dalam perperangan. Walau fisik mereka dihabiskan untuk beribadah, tapi mereka semua akan terjun ke medan perang ketika panggilan jihad ditabuh.

Di samping itu, para sahabat juga kuat dari segi finansial. Misalnya saja, sahabat Nabi yang disebut dalam daftar asyarah mubasyirina biljannah (sepuluh orang yang dijamin masuk surga), ternyata sembilan di antaranya adalah orang kaya. Bukannya Allah SWT tak sayang dengan orang beriman yang miskin, tetapi Allah SWT lebih sayang dengan orang beriman lagi kaya.

Demikian juga di bidang-bidang lainnya, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan seterusnya. Para sahabat Nabi SAW adalah orang-orang yang memegang tampuk perekonomian di masanya. Lihat pula para ulama di masa tabiin dan tabi’ tabiin. Mereka para ulama yang menguasai disiplin ilmu di bidang lain. Ibnu Sina’, di samping menjadi ulama, ia juga pakar di bidang kedokteran. Al Batani, di samping menjadi seorang ulama, ia seorang astronom dan matematikawan. Masih banyak lagi contoh lainnya.

Begitulah seharusnya seorang Muslim yang ideal. Di samping kuat imannya, ia juga kuat di bidang-bidang yang lain. Ia tak ketinggalan menggeluti bidang-bidang keduniawian, bahkan lebih hebat dibanding yang lain. Menjadi seorang Muslim tak hanya baik dalam hubungan vertikal dengan Allah SWT. Seorang Muslim juga tampil dan menjadi orang terdepan dalam hubungan horizontal antarsesama manusia.

Mengapa orang Islam harus kuat dari berbagai sisi? Karena ajaran Islam menyentuh semua sisi-sisi kehidupan manusia. Jika ia lemah, ia tak akan bisa melaksanakan ajaran Islam secara sempurna dalam seluruh sisi kehidupannya. Misalnya saja, menegakkan nahi mungkar (mencegah kemungkaran) yang nyata tampak di depan matanya. Ia tak akan sanggup berbuat apa-apa jika posisinya lebih lemah dari objek yang akan dicegahnya.

Orang yang tak punya kekuatan untuk mencegah kemungkaran di depan matanya, diistilahkan Nabi SAW dengan orang yang punya keimanan terendah. Sabda Nabi SAW, “Jika engkau melihat kemungkaran, cegahlah dengan tangan (kekuasaan) mu. Jika engkau tak sanggup, cegahlah dengan lisanmu. Jika engkat tak sanggup, maka ingkarilah dengan hati. Itulah selemah-selamah iman. (HR Muslim).

Menjadi sesuatu yang bernilai ibadah bagi seorang Muslim, jika ia berolahraga untuk melatih kekuatan fisiknya. Demikian juga bekerja sungguh-sungguh untuk menguatkan finansialnya. Demikian juga bidang-bidang lainnya, seperti sosial, budaya, politik, kesenian, dan seterusnya. Mereka yang bersungguh-sungguh di bidangnya adalah bentuk penguatan diri demi mendapat kecintaan Allah SWT yang lebih.

(Santri Tv/Rafi)