Tampilkan postingan dengan label 2018 at 09:27PM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2018 at 09:27PM. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 November 2018

Budaya Santri itu Mengantri

Suasana ramai dan berisik mulai terdengar saat jam sarapan pagi. Seluruh santri berburu ke stand pengambilan makanan untuk mengambil jatah makan mereka masing- masing. Ada dari mereka yang membawa piring di tangan kanan dan gelas ditangan kirinya. Suasana yang akan jarang ditemukan di kehidupan luar pesantren.Perjuangan untuk makan pun dimulai. Santri yang datang pertama, akan mendapat jatah nasi dan lauk yang pertama.

Budaya mengantri, beginilah suasana di lingkungan pondok pesantren, santri hidup di pesantren, bersamaan dengan banyak orang, satu kepentingan yakni belajar dan banyak kebiasaan. Semua itu harus mereka jalani dengan baik,itulah miniatur kehidupan. Kehidupan tersebut harus kita warnai dengan nilai nilai kesantrian. Maka nikmatilah kehidupan pesantren bukan untuk dikeluhkan tapi dijalani sebagai sekolah kehidupan.

Ngantri adalah salah satu fenomena yang paling populer.  Sebabnya mudah ditebak, fasilitas terbatas, jumlah santri yang sangat banyak, otomatis harus ngantri. Tidak sekedar antri tetapi juga sanggup memaknai sehingga mendapat pahala dan hikmah. Intinya antri adalah hal yang sangat mendidik, dan mempunyai kemanfaatan yang entah itu dilihat dari kacamata psikologi ataupun sosial.Mengantri mungkin membuat sebagian santri kesal, namun lama kelamaan budaya itu akan melekat dan mendarah daging, yang sebenarnya tengah mengajarkan realitas kehidupan, di antara disiplin, tertib, sabar, tidak saling mendahului, dan menghargai sesama. Dengan demikian, seorang santri adalah orang yang sanggup tertib ditengah masyarakat, menghargai siapa yang dulu dan siapa yang kemudian. Dan itulah budaya santri adalah mengantri,jika dia tidak mau mengantri berarti dia bukanlah santri yang sesungguhnya. (LISAN/RSB)

 

 

Rabu, 31 Oktober 2018

Banyak Jiwa Yang Berbuat Kejahatan ,mampukah kita menahan diri?

Musuh lain yang harus kita perangi adalah diri kita sendiri. Allah mengilhami manusia dengan kebaikan dan keburukan. Keburukan dalam diri kita selalu bekerja untuk setan. Al-Qur`an menjelaskan kedua sisi jiwa kita tersebut :

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 7-10)

Kita harus waspada terhadap sisi keburukan yang ada dalam diri kita sendiri dan selalu menjaga hati dalam menentang bahaya. Mengabaikan sisi keburukan jiwa kita tidak akan menolong kita lepas dari keburukannya. Akan tetapi, kita harus menyucikan jiwa seperti yang diajarkan dalam Al-Qur`an. Dengan demikian, kaum mukminin tidak pernah menyatakan bahwa diri mereka suci, tetapi tetap berhati-hati terhadap hasutan dan kesia-siaan jiwa mereka.Pengakuan Yusuf a.s. :

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya, Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,“ (Yusuf: 53)

harus selalu diingat sebagai contoh yang baik untuk bersikap dengan tepat. Manusia seharusnya mengawasi kelemahan jiwanya dan berbuat kebaikan serta mengekang nafsu, sebagaimana sebuah ayat tegaskan :

Ke arah mana keserakahan mengarahkan manusia, juga tercatat dalam Al-Qur`an. Hawa nafsu adalah yang mendorong salah satu anak Adam membunuh saudaranya :

“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.” (al-Maa`idah: 30).

Kecenderungan yang sama yang menyebabkan Samiri menyesatkan pengikut Musa ketika beliau tidak ada. Samiri berkata :

“… dan demikianlah nafsuku membujukku.” (Thaahaa: 96)

Manusia hidup didunia ini penuh dengan hasrat dan hawa nafsu yang membuat mereka haus akan sesuatu yang mereka inginkan,sebagaimana yang kita rasakan saat ini kita hidup di era dimana orang-orang ingin mengetahui apa yang belum diaketahui,ditambah kemajuan teknologi,semua hal dapat kita lakukan didunia internet dengan layanan google kita dapat membuka apa yang kita inginkan.tanpa ada batasannya karna luasnya dunia internet yang dapat kita jelajahi.Satu-satunya cara mencapai keselamatan adalah dengan mengekang nafsu :

“… Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Senin, 08 Januari 2018

Pelepasan Peserta Praktik Pengabdian Masyarakat (PPM) Di Darunnajah

DARUNNAJAH.COM – JAKARTA, Pelepasan Keberangkatan Peserta Praktik Pengabdian Masyarakat (PPM) Di Kota Dumai Provinsi Riau pada tanggal 11 Desember 2017 pukul 20.00 WIB di Gedung Olahraga (GOR) Darunnajah Jakarta.