Tampilkan postingan dengan label February 09. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label February 09. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Februari 2019

5 Tips Agar Anak Betah Sekolah di Pondok Pesantren

Pada saat ini, Banyak sekali orangtua yang menyekolahkan anaknya di Pondok Pesantren. Kini semakin besar kesadaran orangtua akan perlunya ilmu agama sehingga memasukkan anak di pondok pesantren.

Tetapi ada juga pemikiran orangtua yang masih ragu untuk memasukkan anaknya di pondok pesantren.

Eits…..

Jangan salah, Santri sendiri berada di pondok dengan pengawasan selama 24 jam. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, Semua kegiatan telah di atur oleh para pendidik, Mereka di gembleng di didik agar mandiri dan mampu taat kepada peraturan yang ada.

karena semua apa yang mereka lihat, Mereka dengar, Mereka rasakan adalah sebuah pendidikan.

Serta, Pesantren juga dapat menyatukan antara ilmu pengetahuan umum dengan ilmu pengetahuan agama. Selain itu mereka juga di bekali dengan penguasaan bakat dan minat yang terpendam dalam diri mereka.

Bahkan sudah banyak lulusan dari pesantren sendiri menjadi orang sukses serta memberikan manfaat kepada umat.

Namun ketika orang tua menyekolahkan anak-anaknya di pesantren banyak dari mereka yang belum betah dan selalu merengek pulang.

Nah berikut tips agar si kecil betah di pondok :

1. Luruskan niat terlebih dahulu

Apa niat orang tua memasukkan anak-anaknya ke pesantren?
Jika hanya untuk di puji maka salah besar.
Harus ikhlas pula untuk melepaskan sang anak untuk belajar di pondok.

2.jangan sering di jenguk apalagi di ajak pulang

Ketika si anak di ajak pulang, Maka itu akan menjadikannya nyaman di rumah dan ia pun akan selalu membandingkan suasana rumah dengan suasana di pondok. Sehingga itu akan menjadikannya alasan untuk bisa keluar dari pondok.

3. Mengikuti kegiatan yang ada di pondok (aktif dalam kegiatan)

Ketika si anak tidak mempunyai kegiatan maka ia akan selalu teringat dengan suasana rumah, Teringat dengan kebiasaan yang selalu ia lakukan di rumah, Namun jika ia aktif dalam kegiatan pondok, Maka ia pun tidak memiliki waktu senggang untuk berandai-andai.

4. Pintar dalam memilih teman

Teman menjadi faktor utama di pondok, Karena teman sendiri yang akan memberikan dampak positif dan juga memberikan dampak negatif pula.

5. Tawakal

Jika si anak dan orang tua sudah berusaha dan juga berdoa maka hal terakhir adalah tawakal.

Semoga bermanfaat

Pondok Pesantren An Nahl Darunnajah 5 telah membuka pendaftaran santri baru

pendaftaran online : santri.darunnajah.com

Info Pesantren : Darunnajah.com

 

Sahabat pena : Muhammad Hafiz

Keutamaan Hari Jum’at

Santri Dengan Buku Catatanya

Pernah mendengar bahwasanya di pesantren, saat kumpul Bersama, hampir tidak ada suara. Santri dan guru-guru yang hadir memperhatikan orang yang berbicara di podium,  Pimpinan Pesantren ataupun tamu undangan lainnya.

Ada yang menarik dari kegiatan kumpul ala pesantren tersebut, seringkali kita melihat usia remaja yang duduk di bangku SMP ataupun SMA tidak bisa se-menit pun lepas dari gadgetnya. seluruh dunianya seperti pindah ke benda berlayar yang selalu ada di gengaman mereka.

Lain halnya dengan santri, ada benda ajaib yang selalu ia jaga, yaitu buku catatanya. Diatas kertas, selintas hanya seperti tulisan yang tak bernilai apa-apa. Tapi sebetulnya bagi mereka buku catatan itu adalah buah pemikiran dan luapan perasaan. disetiap kegiatan, kumpulan atau rapat apapun, diwajibkan membawa buku catatanya.

Organisasi Santri Darunnajah seperti halnya OSIS di sekolahan umum, akan berpatroli mengawasi santri yang ngantuk dan tidak mencatat apa yang disampaikan pembicara saat kumpul. Akan ada hukuman tersendiri bagi mereka yang tak mematuhi aturan.

Terdengar sederhana, tapi hal semacam itu merupakan salah satu proses Pendidikan yang ada dipesantren. Apa yang di dengar, apa yang dilihat dan apa yang dirasakan adalah Pendidikan. Mari kita tengok pesan yang disampaikan Imam Asy Syafi’I rahimahullah

 

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتاَبَهُ قَيدُهُ

Yang memiliki makna : Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya.

K.H Ahmad Sahl  salah satu tri murti Pondok Pesantren Darussalam gontor pun, sering menuliskan apa yang dialami dan apa yang dicita-citakan di atas buku tulisnya .

Buku catatan santri berfungsi sebagai pengingat bagi mereka sampai kapanpun, karena itu menjadi bekal saat mereka lulus nanti, juga untuk mendokumentasikan nilai-nilai pesantren.

 

 

 

Kisah Hidup Sang Raja Jawa Tanpa Mahkota

Hadji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto adalah pahlawan nasional sekaligus pemimpin abadi Sarekat Islam (SI). Tjokroaminoto memimpin SI sejak 1914 hingga wafat pada 17 Desember 1934. Di bawah kendalinya, SI sempat menjadi salah satu organisasi massa terbesar dalam sejarah pergerakan nasional.

Tjokroaminoto juga merupakan guru bagi tokoh-tokoh yang kelak sangat berpengaruh, seperti Sukarno, Semaoen, Musso, hingga Maridjan Kartosoewirjo. Maka, tidak berlebihan jika Tjokroaminoto boleh disebut sebagai bapaknya bapak bangsa Indonesia. Berikut ini jejak langkah Tjokroaminoto.

1882
Darah Biru
Lahir di Bakur, Madiun, Jawa Timur, tanggal 16 Agustus 1882. Ayahnya, R.M. Tjokroamiseno, adalah seorang wedana atau asisten bupati. Sedangkan sang kakek, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah menjadi Bupati Ponorogo.

1902
Calon PNS
Lulus dari Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang. OSVIA adalah sekolah bagi calon abdi negara pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tamat dari OSVIA, Tjokroaminoto sempat bekerja di kesatuan pegawai administratif di Ngawi.

1912
Dari SDI ke SI
Atas saran Tjokroaminoto, Haji Samanhoedi mengubah nama Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI). Tjokroaminoto sendiri adalah anggota SI Surabaya yang kemudian menjadi ketua cabang.

1913
Wakil Ketua CSI
Dalam Kongres SI pertama pada 25 Maret 1913 di Surakarta, Tjokroaminoto ditunjuk menjadi wakil Ketua CSI (Centraal Sarekat Islam) mendampingi Hadji Samanhoedi sebagai Ketua CSI yang berpusat di Solo.

1914
Menggusur Samanhoedi
Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua CSI dalam kongres kedua pada 19-20 April 1914 di Yogyakarta menggusur Samanhoedi. Kantor pusat SI pun dipindahkan dari Surakarta ke Surabaya. Di tahun pertama kepemimpinan Tjokroaminoto, anggota resmi SI tercatat mencapai 400.000 orang.

1918
Aksi Bela Islam
Awal Februari 1918, Tjokroaminoto memimpin Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) di Surabaya dan menggerakkan aksi bela Islam sebagai respons atas tulisan di majalah Djawi Hiswara yang dianggap menghina Nabi Muhammad. Tahun itu, massa SI berjumlah 450 ribu orang. Pada 1919, sebagai dampak aksi tersebut, anggota SI membengkak menjadi 2,5 juta orang.

1923
Partai Sarekat Islam 
Setelah berhasil mendepak anggota SI yang terindikasi berafiliasi dengan paham kiri, Tjokroaminoto mengubah nama SI menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) yang jelas-jelas berhaluan politik.

1929
Partai Sarekat Islam Indonesia 
Dalam kongres yang digelar pada Januari 1929, diputuskan bahwa PSI berganti nama lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Tjokroaminoto kembali terpilih sebagai ketua umum untuk kesekian kalinya.

1934
Tjokroaminoto Wafat
Tanggal 17 Desember 1934, Tjokroaminoto meninggal dunia. Setelah itu, PSII terpecah-belah dengan hengkangnya beberapa tokoh penting, termasuk Haji Agus Salim setelah berselisih dengan adik Tjokroaminoto, Abikoesno Tjokrosoejoso.

1961
Pahlawan Nasional
Tjokroaminoto memang tidak sempat menikmati alam kemerdekaan. Namun, pengaruh dan sumbangsihnya bagi gagasan bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri sangat besar. Presiden Sukarno atas nama pemerintah RI menetapkan H.O.S. Tjokroaminoto sebagai pahlawan nasional pada 1961.

Dedikasi nya untuk negeri perlu diacungi jempol, banyak tokoh pergerakan islam yang lahir dari didikan beliau yang dapat membuat islam kembali bangkit.

(Santri Tv/Rafi)

Jumat, 09 Februari 2018

Kegiatan Peserta Rihlah Munadzomah Di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri

Amaliyah Tadris Di Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14

maka dalam melaksanakan visi tersebut,Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 memulai acara Amaliyah tadris(08/02/2017).

Darunnajah sendiri seperti yang di ungkapkan oleh Ust Hasyim Abdul Jamil selaku Biro Pendidikan Pondok Pesantren Darunnjah 14 “Darunnajah merupakan tempat persemaian para guru untuk mencetak kader umat yang mutafaqqun fiddin”

Diharapkan dengan diadakanya pelaksanaan Amaliyah Tadris ini dapat membuat dan melahirkan kader bagi umat dan bangsa.

 

Arbain Cup Memberi Antusias Santri Gedung Arbain

Santri Nurul Ilmi mengikuti kegiatan Arbain Cup atau lomba futsal anatar kamar di gedung arbain Pada hari jum’at (9/2/18), di lapangan futsal Nurul Ilmi darunnajah 14, kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja dari pengurusan organisasi baru bagian kesenian dan olahraga, kegiatan ini diawali dengan pembukaan oleh bapak pimpinan pondok pesantren Nurul Ilmi darunnajah 14 kemudian langsung diawali dengan pertandingan antara Kamar BPS dan kamar 107.

By: mochdardo73@gmail.com