Tampilkan postingan dengan label 2018 at 12:46PM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2018 at 12:46PM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Oktober 2018

Pendidikan Karakter Apakah Hanya Sekadar Hitam di Atas Putih?

Pendidikan karakter mungkin selalu menjadi hal yang selalu dielu-elukan terutama di bidang pendidikan. Dari visi misi setiap satuan pendidikan, program, hingga perangkat pembelajaran, pendidikan karakter selalu tertera. Apalagi saat ini Kurikulum 2013 memang mengutamakan pendidikan karakter sebagai gerbang utama selain materi pembelajaran tentunya.

Pendidikan karakter memang bertujuan agar lulusan nantinya akan menjadi lulusan yang berkualitas. Tidak hanya nilai yang tinggi, namun juga memiliki karakter yang berkualitas. Hal ini karena masyarakat Indonesia dipandang hanya mampu pintar dan menguasai banyak ilmu, tetapi karakternya masih yang belum berkualitas.

Namun harus kita akui bahwa pendidikan karakter saat ini, penerapannya masih sekadar hitam di atas putih alias baru secara tertulis saja. Mengapa demikian?

Sekolah sebagai satuan pendidikan yang berfungsi melaksanakan pendidikan karakter tersebut masih dikatakan minim dalam mengimplentasikanya. Kebanyakan sekolah mengejar gengsi dengan meninggi-ninggikan nilai UN, bukan karakternya.

Guru sebagai aktor utama dalam penerapan pendidikan karakter tersebut masih memosisikan dirinya sebagai pengajar yang hanya mengajarkan materi pembelajaran saja. Padahal guru bukan hanya ahli dalam segala pembelajaran saja, namun juga mendidik karakter siswa dengan baik.

Hal ini membuat tujuan seorang siswa ke sekolah hanya untuk mengejar nilai dan lulus secara akademis namun karakter terabaikan begitu saja. Banyak siswa yang merokok di sekolah, tidak fokus sembahyang, bolos upacara, selalu ada senioritas junioritas, pembulian, radikalisme dan lainnya membuktikan bahwa nama pendidikan karakter masih sekadar nama saja.

Tentu saja diperlukan sinergi pemerintah dan satuan pendidikan dalam membangun pendidikan karakter anak di sekolah. Misalnya wajib hormat bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sembahyang bersama, melakukan pendidikan nilai karakter dengan cara bercerita, bernyanyi dan bermain bersama sangat menunjang pendidikan karakter tersebut.

Ditambah dengan pelatihan kekompakan, kerjasama satu sekolah dan berbagi makanan saat di kelas juga sangat menunjang. Jadi, peran guru sebagai aktor utama dalam pendidikan sangat penting.

Tidak hanya memberikan materi juga mampu menerapkan nilai karakter bagi siswa. Sehingga lulusannya benar-benar berkarakter.

Untuk itu pesantren Darunnajah mampu memadukan catur pusat pendidikan,yaitu kyai sebagai sentral figure,asrama masjid sebagai tempat ibadah dan tempat belajar secara terpadu.hal ini dapat menjadikan santri dalam pengawasan dan pembinaan totalitas 24 jam penuh.

Pesantren dapat membangun jiwa karakter generasi muda menumbuhkan ketahanan pribadi santri.dalam pesantren kita membangun jiwa mandiri santri,karenakehidupan pesantren memaksa para santri untuk lebih self-help.yaitu segala sesuatu yang kita kerjakan sendiri,mulai dari mencuci pakaian,bersih bersih kamar,belajar,dan sebagainya.hidup di pesantren juga kita belajar cara trikat,yaitu nrimo dengan fasilitas dan perlakuan tidak “semewah”di rumah.

Minggu, 28 Oktober 2018

Mengenal Jalannya Sejarah Sumpah Pemuda Indonesia

Yang dimaksud dengan “Sumpah Pemuda” adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”. Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap “perkumpulan kebangsaan Indonesia” dan agar “disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan”.

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik, dimana pada tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Karenanya, sudah menjadi sebuah keharusan bagi seluruh rakyat Indonesia memperingati 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran bangsa Indonesia ini adalah bukti dari perjuangan rakyat Indonesia yang selama ratusan tahun tertindas di bawah kekuasaan kolonialis pada masa itu, kondisi seperti inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada waktu itu membulatkan tekad untuk mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia. Tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaan, pada 17 Agustus 1945.

Kongres Pemuda Indonesia ke-II
Gagasan penyelenggaraan Kongres Sumpah Pemuda ke-II berasal dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), dimana sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan para pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan di bagi menjadi tiga kali rapat.

Rapat pertama
Dilaksanakan pada Sabtu 27 Oktober 1928 di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam setiap sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan kaitan persatuan Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kemauan.

Rapat kedua
Dilaksanakan pada Minggu, 28 Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, serta juga harus ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus di didik secara demokratis.

Rapat ketiga
Pada rapat penutup di Gedung Indonesische Clugebouw yang di jalan Kramat raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak dapat dipisahkan dari gerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Para peserta dalam Kongres Sumpah Pemuda ke-II berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu. Seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamietan Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dan lain sebagainya. Diantara mereka hadir pula beberapa pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie. Namun sampai saat ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka. Sementara Kwee Thiam Hiam hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Basweden, pemuda keturunan Arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda keturunan Arab.

Tempat dibacakannya Sumpah Pemuda
Pada tanggal 28 Oktober 1928 bangunan di jalan Kramat Raya 106 adalah tempat dibacakannya Sumpah Pemuda. Lokasi tersebut adalah sebuah rumah pondokan yang dijadikan tempat untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.

Berikut ini adalah bunyi “Sumpah Pemuda” sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda. Penulisan menggunakan ejaan van Ophuysen.

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Rumusan Kongres
Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan secara terperinci oleh Yamin. Dalam peristiwa sumpah pemuda diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia yang pertama kalinya, lagu ini diciptakan oleh W.R. Soepratman.