Tampilkan postingan dengan label October 30. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label October 30. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Oktober 2018

Keseharian Santri Pondok Pesantren An Nahl Darunnajah 5

Pelantikan dan Pergantian Pengurus OSDC, OSIDC dan KOORDINATOR Masa Bhakti 2018-2019

(hwatihera99/Wardan)

5 Obat Penyakit Hati

Sosialisasi Fathul Munjid Gelombang Ke Dua

Sejarah Pesantren di Indonesia

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mana Kyai sebagai sentral figur masjid sebagai sentral kegiatan dan Santri sebagai subjek dan objek pendidikannya Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu.

 

Di samping itu, kata pondok mungkin berasal dari Bahasa Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan pesantren, sedang di Aceh dikenal dengan Istilah dayah atau rangkang atau menuasa, sedangkan di Minangkabau disebut surau. Pesantren juga dapat dipahami sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal, di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Ulama Abad pertengahan, dan para santrinya biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.

Ada dua versi pendapat mengenai asal usul dan latar belakang berdirinya pesantren di Indonesia, yaitu:

Pendapat yang pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tarekat. Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai oleh terbentuknya kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan zikir dan wirid tertentu. Pemimpin tarekat yang disebut Kiai itu mewajibkan pengikutnya untuk melaksanakan suluk, selama empat puluh hari dalam satu tahun dengan cara tinggal bersama, sesama anggota tarekat dalam sebuah masjid untuk melaksanakan ibadah-ibadah dibawah bimbingan Kiai.

Untuk keperluan suluk ini para Kiai menyediakan ruangan khusus untuk penginapan dan tempat-tempat khusus yang terdapat di kiri kanan masjid. Disamping mengajarkan amalan-amalan tarekat, para pengikut itu juga diajarkan agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuaan agama Islam. Aktifitas yang dilakukan oleh pengikut-pengikut tarekat ini kemudian dinamakan pengajian. Dalam perkembangan selanjutnya lembaga pengajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga Pesantren.

 

Pendapat yang kedua adalah, pesantren yang kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambil alihan dari sistem pesantren yang diadakan oleh orang-orang Hindu di Nusantara. Kesimpulan ini berdasarkan fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam ke Indonesia lembaga pesantren sudah ada di negeri ini. Pendirian pesantren pada masa itu dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan agama Hindu dan tempat membina kader. Anggapan lain mempercayai bahwa pesantren bukan berasal dari tradisi Islam alasannya adalah tidak ditemukannya lembaga pesantren di negara-negara Islam lainnya, sementara lembaga yang serupa dengan pesantern banyak ditemukan dalam masyarakat Hindu dan Budha, seperti di India, Myanmar dan Thailand.

 

Pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaan dan perkembangannya setelah abad ke 16. Pesantren-pesantren besar yang mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang fikih, teologi dan tasawuf. Pesantren ini kemudian menjadi pusat-pusat penyiaran Islam seperti; Syamsu Huda di Jembrana (Bali), Tebu Ireng di Jombang, Al Kariyah di Banten, Tengku Haji Hasan di Aceh, Tanjung Singgayang di Medan, Nahdatul Watan di Lombok, Asadiyah di Wajo (Sulawesi) dan Syekh Muhamad Arsyad Al-Banjar di Matapawa (Kalimantan Selatan) dan banyak lainnya.

Semoga bermanfaat.(dn13/ghofur)

Pikiran Negative yang Mulia Sekalipun Ikut Menentukan

Pikiran adalah yang Menentukan

Keutamaan Menghafal Al-Qur’an

Al-Qur'an al-karim

Al-Qur’an al-karimMengapa kita sebagai umat muslim harus menghafal Al-Qur’an, apa keutamaan dari menghafal Al-Qur’an ? Yu kita simak berikut ini.

فعن عبد الملك بن عمير :
‘ ( كان يقال إن أبقى الناس عقولا قراء القرآن ) ،
Dari Abdul Malik bin Umair, “Dikatakan bahwa orang yang paling bertahan akalnya adalah para pembaca dan penghafal Alquran.”

– وفي رواية :
‘ ( أنقى الناس عقولا قراء القرآن ) ‘
Riawayat lain, “Orang paling bersih akalnya adalah pembaca dan penghafal Alquran.’

وقال القرطبي رحمه الله :
من قرأ القرآن مُتّع بعقله وإن بلغ مئة !
Qurthubi berkata, “Siapa membaca dan menghafal Alquran ia akan menikmati akalnya walau umurnya sampai 100 (tahun).”

وقد أوصى الإمام إبراهيم : المقدسي تلميذه عباس بن عبد الدايم – رحمهم الله :
( أكثر من قراءة القرآن ولا تتركه ، فإنه يتيسر لك الذي تطلبه على قدر ما تقرأ ) ؛

Imam Ibrahim Almaqdisi menasihati muridnya, Abbas bin Addayim, “Perbanyaklah membaca Alquran dan jangan tinggalkan. Sesungguhnya apa yang kamu minta akan menjadi mudah sebatas apa yang kamu baca dan kamu hafalkan

وقال ابن الصلاح رحمه الله :
– ورد أن الملائكة لم يعطوا فضيلة قراءة القرآن ، ولذلك هم حريصون على استماعه من الإنس !
-Ibnu Shalah berkata, “Diriwayatkan bahwa malaikat tidaklah dikaruniai kemuliaan membaca dan menghafal Alquran. Makanya mereka sangat ingin selalu mendengarnya dari manusia.”

وقال أبو الزناد :
‘ ( كنت أخرج من السّحَر إلى مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم فلا أمر ببيت إلا وفيه قارئ ) ؛
Abu Zunad berkata, “Di waktu sahur aku keluar menuju masjid Rasulullah saw, dan aku tidak melewati rumah kecuali disana ada yang sedang membaca Alquran.”

وقال شيخ الإسلام رحمه الله :
( ما رأيت شيئا يغذّي العقل والروح ويحفظ الجسم ويضمن السعادة أكثر من إدامة النظر في كتاب الله تعالى ) ؛
Syaikhul Islam berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang memberi asupan kepada akal, menjaga fisik, dan memberi kebahagiaan lebih banyak ketimbang berlama-lama memandangi Alquran.”

فتعلق بالقرآن أخي الحبيب تجد البركة . .
– قال الله تعالى في محكم التنزيل :
” كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته ”
Maka kuatkan hubungan dengan Alquran saudaraku niacaya kamu akan mendapat keberkahan.
Allah berfirman, “Kitab yang kami turunkan yang penuh berkah agar kalian tadabburi ayat-ayatnya.

وكان بعض المفسرين يقول :
– ( اشتغلنا بالقرآن فغمرتنا البركات والخيرات في الدنيا ) ؛
Seorang mufassir berkata, “Kami sibuk dengan Alquran maka kami mendapatkan limpahan keberkahan dan kebaikan di dunia.”

Sebagai umat muslim kita harus saling mengingatkan serta mengajak sahabat kita kepada kebaikan, karna orang yang mengajak kepada kebaikan maka ia seperti orang yang melakukan kebaikkan itu tersebut, jadi jangan ragu-ragu dalam menolong dan membela agama Allah SWT.

(Adm-DN9 Tiasty katiara)

Proses Pembangunan Gedung Granada

Selasar 30 Oktober 2018, Al-Hasanah Darunnajah 9 Pamulang, proses pembangunan gedung granada.

Mohon doa untuk kelancaran pembangunan gedung Granada, yang di rencanakan sebagai gedung untuk kelas.

(Adm-DN9 Tiasty katiara)