Created by : Muhammad Hafiz
Kegiatan Praktik mengajar ini dievaluasi langsung oleh Bpk. Pimpinan Pesantren Darunnajah 14 Ust Fajar Suryono S.kom, untuk peningkatan dan pembenaran materi bagi santri akhir lainnya.
Prof. Dr. Haji Abdul Malik bin Dr. Syaikh Haji Abdul Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan julukan Buya Hamka. Seorang sastrawan, aktivis, ulama serta ahli filsafat yang lahir di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, di Sungai Batang, Tanjung Raya, pada tanggal 17 Februari 1908.
Karya-karya tulis Buya Hamka yang terkenal yaitu buku Tenggelamnya Kapal van Der Wijk dan Di Bawah Lindungan Ka’bah.
Tidak hanya terkenal dengan berbagai karyanya. Buya Hamka juga tersohor berkat pemikiran-pemikarannya yang luar biasa. Dari hal tersebut banyak keluar kalimat-kalimat inspiratif yang tidak hanya digunakan sebagai motivasi tetapi juga untuk menyentil atau mengingatkan jika ada yang salah.
Di bawah ini ada beberapa quotes dari Buya Hamka yang cukup menyentil berbagai aspek kehidupan saat ini. Penasaran? Simak yuk!
Indonesia sebagai negara yang plural tentu tidak diisi dengan satu agama saja. Ada berbagai agama yang hadir dinegara Indonesia. Ketika seorang Buya Hamka berkata bahwa pentingnya sebuah ilmu berbanding lurus dengan iman atau kepercayaan seseorang. Hal itu bermakna bahwa ilmu saja tidak akan cukup dalam hidup ini.
Pedoman sejati yang menuntun kita manusia adalah keimanan atau kepercayaan terhadap agama masing-masing serta menjalankan perintah agama dengan baik. Jika hanya mengandalkan sebuah ilmu saja atau keimanan saja.
Maka yang terjadi tidak adanya keselarasan dalam hidup karena masing-masing golongan hanya mementingkan golongannya sendiri.
Quotes legendaris dari Buya Hamka satu ini seakan tidak lekang oleh waktu. Quotes ini cukup menjentik bagaimana kondisi saat ini. Hidup tidak akan berubah tanpa bekerja dan jika pun bekerja tidak hanya sekadar bekerja saja. Kerja keras penting namun yang lebih penting lagi adalah kerja cerdas.
Kehidupan laiknya lautan yang jika tidak berhati-hati mata dipastikan akan tersapu ombak. Ungkapan Buya Hamka tersebut sangat relevan jika diterapkan dalam kondisi kehidupan saat ini. Lebih berhati-hati dan terus mengembangkan potensi diri adalah salah satu kunci jika tidak ingin tersapu ombak kehidupan.
Jangan pernah malas dalam hidup. Menurut Buya Hamka dalam hidup tidak ada tempat untuk seorang pemalas. Jangan pernah mau diperbudak dengan kemalasan. Lalui hari-harimu dengan semangat produktivitas tanpa batas dan jangan pernah malas ya guys.
Cukup menohok memang kalimat di atas. Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa bergantung dengan orang lain. Dari situ juga kita perlu mengingat kembali bahwa bersikap individualis bukanlah hal yang baik dalam hidup ini.
Mungkin kalimat di atas harus lebih dicermati oleh para pemimpin yang saat ini sedang memangku jabatan yang besar. Menurut Buya Hamka sebuah negara akan mengalami kemunduran jika mengalami kemunduran budi dan kekusutan jiwa.
Maksudnya adalah ketika kondisi baik pemimpin atau masyarakat tidak memiliki keselarasan tujuan serta inging saling menjatuhkan. Maka bisa dibilang hal tersebut adalah suatu kemunduran bagi negara.
Ketika menghadapi suatu masalah Buya Hamka berpesan bahwa jangan dihadapi dengan wajah berkerut. Namun cobalah hadapi semampu mungkin masalah itu. Jika sebuah masalah hanya ditimpali dengan wajah berkerut tanda kesulitan. Maka hasilnya bukan sebuah jalan keluar yang didapat namun sebuah masalah yang jauh lebih besar.
Kehidupan tentunya menyimpan sejuta misteri. Yang pasti adalah bagaimana kita harus tetap survive dan terus maju menatap masa depan yang lebih baik.
(Santri Tv/Rafi)
Kegiatan Praktik mengajar ini dievaluasi langsung oleh Bpk. Pimpinan Pesantren Darunnajah 14 Ust Fajar Suryono S.kom, untuk peningkatan dan pembenaran materi bagi santri akhir lainnya.
Pada Amaliyah perdana ini terdapat beberapa kekurangan yang terjadi dan harus dilakukan berbagai perbaikan agar tidak terjadi kesalahan lagi pada Amaliyah yang akan datang.
Praktik Mengajar ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur sejauh mana santri kelas akhir TMI berhasil mempraktikan dan mengamalkan ilmu yang telah ia dapat selama di Pesantren dan sebagai persiapan untuk mengajar kelak ketika telah lulus dan mengabdi.
(Santri Tv/Rafi)